Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei berpose dengan senjata.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Terpilihnya putra Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dinilai sebagai pukulan telak terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Keputusan Majelis Ahli tersebut mementahkan salah satu tujuan Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerang Iran.
Kedua pimpinan menyatakan serangan ke Iran adalah juga untuk mengganti rezim negara tersebut. Washington dan Tel Aviv menghendaki pemerintahan Iran yang lebih lunak dan akomodatif terhadap kepentingan AS dan Israel.
Yang ia dapatkan sekarang setelah membunuh Ali Khamenei, adalah putra keduanya yang lebih dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan sempat bergabung bersama Batalyon Habib dalam Perang Iran-Irak selapa 1980-an.
“Ini adalah kesalahan nyata Donald Trump yang sebelumnya mengatakan dia tidak menginginkan Mojtaba Khamenei (sebagai pemimpin tertinggi,” kata Barbara Slavin dari Stimson Institute dikutip Aljazirah.
Penunjukan Mojtaba, kata dia, juga membuat serangan AS-Israel ke Iran menjadi lebih tidak masuk akal. Terlebih, dalam serangan ke Iran, AS dan Israel juga membunuh hampir semua anggota keluarga Mojtaba.
“Mereka membunuh (Ali) Khamenei) dan membuat ia diganti putranya, seseorang yang akan marah, tentu saja, atas pembunuhan ayah, ibu, istri, dan salah satu anaknya dalam serangan Israel seminggu yang lalu.”
Slavin mencatat Mojtaba telah memerintah bersama ayahnya selama bertahun-tahun. Mengingat ancaman nyata yang dihadapi Republik Islam, tampaknya cukup logis untuk menempatkan [dia] di sana karena dia mengenal semua orang dan mengetahui semua hal”.

3 hours ago
3















































