Faktor Pergerakan Wisatawan di Sleman saat Nataru, Lava Tour Favorit

1 day ago 3

Faktor Pergerakan Wisatawan di Sleman saat Nataru, Lava Tour Favorit Wisatawan sedang menikmati wisata jip lava tour Merapi. - Harian Jogja.

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Meski dipengaruhi berbagai kendala, wisata atraksi seperti jip lava tour Merapi dan Tebing Breksi masih menjadi primadona kunjungan.

Kepala Dispar Sleman, Edy Winarya, mengatakan ada beberapa aspek yang berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan, salah satunya kebijakan larangan studi tur yang berpengaruh terhadap segmen pelajar.

“Regulasi larangan studi tur jelas berpengaruh pada pergerakan wisatawan, khususnya dari kalangan pelajar,” ujar Edy, Rabu (7/1/2026).

Selain itu, faktor cuaca ekstrem turut memengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung ke Sleman. Menurut Edy, kondisi cuaca membuat sebagian wisatawan membatalkan agenda perjalanan karena mempertimbangkan risiko.

“Cuaca ekstrem pasca bencana banjir di Sumatera itu kan banyak cancel. Jadi banyak kunjungan yang mendasarkan keputusannya pada kondisi cuaca sehingga keberanian untuk wisata lebih berhati-hati,” jelasnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan wisatawan adalah efisiensi anggaran. Edy menyebutkan sejumlah hotel dan destinasi wisata yang sebelumnya telah menerima reservasi, namun akhirnya mengalami pembatalan.

“Efisiensi anggaran juga berdampak. Ada hotel dan tempat wisata yang sudah direservasi, tapi akhirnya dibatalkan,” katanya.

Keberadaan jalan tol juga dinilai memengaruhi lama waktu tinggal wisatawan di Sleman. Akses yang semakin cepat membuat sebagian wisatawan hanya singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain.

“Sekarang ada jalan tol, ke Surabaya atau Boyolali lebih cepat. Kadang wisatawan ke Sleman langsung bablas, tidak menginap, atau hanya sebentar di destinasi lalu pergi lagi,” ungkap Edy.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada indikator kinerja pariwisata, yakni lama tinggal dan belanja wisatawan.

“Kinerja kami kan kunjungan, lama tinggal, dan belanja wisatawan. Kalau lama tinggalnya pendek, otomatis belanjanya juga berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, Edy menilai keberadaan jalan tol masih perlu dikaji lebih dalam apakah menjadi peluang atau justru tantangan bagi industri pariwisata Sleman.

Dari sisi preferensi wisata, Edy menegaskan wisata atraksi masih mendominasi kunjungan selama Nataru. Wahana jip lava tour Merapi di kawasan Kaliurang dan Tebing Breksi menjadi destinasi favorit wisatawan.

“Sampai saat ini yang kami amati, lava tour jip masih menjadi primadona, termasuk juga di Tebing Breksi. Dari sisi kunjungan, masih unggul,” tegasnya.

Selain wisata atraksi, wisata kuliner dengan panorama menarik juga banyak diminati wisatawan karena menawarkan pengalaman menikmati makanan dengan pemandangan estetik.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi, Dardiri, mengungkapkan lonjakan signifikan kunjungan wisatawan jip selama periode Nataru. Sejak 22 Desember 2025, jumlah kunjungan harian rata-rata mencapai lebih dari 20.000 orang.

“Kunjungan rata-rata 20.000 orang per hari sampai jip kurang. Kebanyakan tamu reguler,” ujar Dardiri, Sabtu (27/12/2025).

Ia menyebut jumlah tersebut meningkat sekitar 35–40 persen dibandingkan periode Nataru tahun sebelumnya, yang hanya berkisar 12.000–15.000 wisatawan per hari.

“Kalau tahun lalu maksimal 15.000 orang, sekarang bisa lebih dari 20.000 orang per hari,” katanya.

Menurut Dardiri, wisatawan jip Merapi berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga luar Pulau Jawa seperti Palembang dan Lampung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|