Harianjogja.com, SLEMAN— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gempa bumi yang terjadi di wilayah Pacitan, Jawa Timur, dan aktivitas kegempaan di Sesar Opak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berasal dari sumber yang berbeda. Meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, kedua peristiwa tersebut tidak serta-merta saling berkaitan.
Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menjelaskan gempa Pacitan dipicu oleh aktivitas zona subduksi, yakni pertemuan lempeng tektonik di selatan Pulau Jawa. Sementara itu, gempa di wilayah Bantul bersumber dari sesar aktif, dengan mekanisme yang berbeda.
“Mekanisme gempa Pacitan berasal dari subduksi atau zona pertemuan lempeng, sedangkan gempa di Sesar Opak memiliki mekanisme yang berbeda,” kata Ardhianto, Senin (9/2/2026).
Terkait kemungkinan adanya saling pengaruh antara aktivitas subduksi dan sesar aktif tersebut, Ardhianto menegaskan hal itu masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut. Menurutnya, keterkaitan antar-sumber gempa tidak bisa disimpulkan secara sederhana tanpa dukungan data yang kuat.
“Untuk mengetahui apakah saling memengaruhi, perlu kajian khusus yang dibuktikan secara ilmiah. Kami di Stasiun Geofisika bekerja berdasarkan data dan fakta, bukan opini,” tegasnya.
Ardhianto menyebut satu hal yang sudah dapat dipastikan adalah perbedaan sumber gempa antara Pacitan dan Bantul. Ia menjelaskan, aktivitas gempa baik di zona subduksi maupun Sesar Opak sebenarnya terjadi hampir setiap hari. BMKG, kata dia, mencatat sekitar 100–150 kejadian gempa setiap pekan dari berbagai sumber, termasuk dari Sesar Opak.
Namun, sebagian besar gempa tersebut memiliki magnitudo kecil dan tidak dirasakan oleh manusia. Gempa dengan magnitudo di bawah skala tiga umumnya hanya terdeteksi oleh alat.
Pada peristiwa 27 Januari lalu, gempa Pacitan dan gempa Bantul sama-sama dirasakan masyarakat. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan publik mengenai kemungkinan keterkaitan kedua aktivitas tersebut.
“Rilis energi gempa sangat dipengaruhi kondisi litologi dan elastisitas batuan. Pada saat itu, pelepasan energinya cukup besar sehingga terasa hampir di waktu yang berdekatan. Tetapi secara aktivitas harian, gempa kecil di subduksi maupun Sesar Opak itu hal yang biasa,” jelas Ardhianto.
Aktivitas Sesar Dengkeng dan Tambakbayan Masih Minim
Selain Sesar Opak, Ardhianto juga memaparkan hasil pemantauan BMKG terhadap Sesar Dengkeng dan Sesar Mataram/Tambakbayan. Hingga kini, aktivitas kegempaan di kedua sesar tersebut masih tergolong minim dan belum menunjukkan aktivitas signifikan.
“Dari sisi monitoring, kami belum banyak menemukan aktivitas gempa di Sesar Dengkeng maupun Tambakbayan. Tidak seperti Sesar Opak yang relatif aktif,” ujarnya.
Meski demikian, BMKG memastikan akan terus melakukan pemantauan. Apabila terjadi aktivitas gempa di wilayah tersebut, informasi akan segera disampaikan kepada masyarakat.
Imbauan Kesiapsiagaan untuk Warga DIY
Dengan posisi DIY yang berdekatan dengan zona subduksi selatan Jawa dan Sesar Opak, Ardhianto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan rutin memantau informasi dari kanal resmi BMKG.
“Kita tinggal di wilayah yang berdekatan dengan sumber gempa darat dan laut yang aktif. Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi resmi dari BMKG,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya literasi kebencanaan. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 60 persen korban selamat gempa adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
“Keselamatan saat gempa sangat ditentukan oleh pengetahuan dan kesiapsiagaan. Masyarakat perlu terus meningkatkan literasi dan berlatih tata cara penyelamatan yang benar,” tandas Ardhianto.


















































