Gunungkidul Gencarkan Vaksinasi Ternak Cegah PMK dan Penyakit Menular

1 hour ago 1

Gunungkidul Gencarkan Vaksinasi Ternak Cegah PMK dan Penyakit Menular Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sugeng Purwanto (kanan) mendampingi dokter hewan menyuntikan vaksin PMK di kandang Kelompok Ternak Pandanmulyo, Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan, Rabu (29/6/2022). - Istimewa

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat langkah pencegahan penyakit menular pada hewan ternak melalui program vaksinasi rutin. Upaya ini difokuskan untuk menekan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang telah menjadi ancaman endemis di wilayah tersebut.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Retno, menyampaikan bahwa selain antraks, PMK menjadi penyakit hewan yang perlu diwaspadai karena dapat muncul sewaktu-waktu.

“Gunungkidul sudah termasuk wilayah endemis PMK. Biasanya penularan meningkat saat musim hujan, meskipun tahun ini kondisinya mulai terkendali setelah puncak kasus terjadi di akhir 2025,” ujar Retno, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang serta memastikan hewan ternak mendapatkan asupan gizi yang cukup agar daya tahan tubuh tetap optimal.

Meski begitu, Retno menegaskan bahwa langkah paling efektif tetap melalui vaksinasi. Program tersebut telah dijalankan secara berkelanjutan sejak kasus PMK pertama kali muncul beberapa tahun lalu.

Pada 2025, sekitar 30.000 ekor sapi dan kambing telah menerima vaksin PMK. Sementara sepanjang Januari 2026, vaksinasi telah diberikan kepada 755 ekor sapi, 729 ekor kambing, serta 15 ekor domba di berbagai wilayah Gunungkidul.

“Vaksinasi akan terus kami intensifkan karena ini terbukti efektif dalam mencegah penularan PMK pada ternak,” katanya.

Senada dengan itu, Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan Playen, Aris Hidayat, menyebut vaksin tidak hanya berfungsi sebagai pencegah, tetapi juga mampu menurunkan tingkat kematian ternak yang terinfeksi.

Ia mencontohkan kasus di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, pada akhir 2025. Saat itu seorang peternak memiliki lima ekor sapi yang terserang PMK.

“Hanya dua ekor yang bisa bertahan karena sudah divaksin sebelumnya. Tiga ekor lainnya mati karena belum mendapatkan vaksin,” ungkap Aris.

Menurutnya, meskipun saat ini penyebaran PMK relatif melandai, potensi penularan tetap ada. Oleh sebab itu, program vaksinasi akan terus dilanjutkan sebagai langkah antisipasi jangka panjang.

“Kondisinya memang sudah lebih terkendali, tapi risiko selalu ada. Maka vaksinasi harus terus berjalan,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|