Harga Minyak Dunia Naik, Ini Dampaknya ke APBN 2026

6 hours ago 4

Harga Minyak Dunia Naik, Ini Dampaknya ke APBN 2026 Foto ilustrasi BBM. / Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Lonjakan harga minyak dunia akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran membuat asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 terlampaui. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah masih menghitung dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, terutama terkait subsidi energi dan ketersediaan BBM dalam negeri.

Dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa, Bahlil menjelaskan asumsi ICP dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.

“Di dalam APBN, harga ICP [harga minyak mentah Indonesia/Indonesian Crude Price] itu 70 dolar AS per barel, dan sekarang harga minyak sudah naik menjadi 78–80 dolar AS per barel,” ujar Bahlil.

Kenaikan harga minyak dunia ke level 78–80 dolar AS per barel tersebut menempatkan harga di atas asumsi makro APBN 2026, sehingga pemerintah perlu melakukan penyesuaian perhitungan fiskal secara cermat.

Sebagai negara yang mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi yang harus ditanggung negara. Namun demikian, Indonesia juga memperoleh tambahan penerimaan karena produksi domestik yang turut terdongkrak oleh harga global.

“Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung,” ucap Bahlil.

Ia menegaskan, kalkulasi dampak harga minyak dunia terhadap APBN 2026 dilakukan secara hati-hati karena berkaitan langsung dengan kebijakan subsidi energi dan stabilitas ekonomi nasional.

“Kami harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya, dengan tetap memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri,” kata dia.

Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dunia. Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pada Minggu (1/3), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.

Situasi kian memanas setelah media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.

Sebagai jalur strategis energi global, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau kurang lebih 20 juta barel per hari, melintasi koridor tersebut, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi langsung memicu lonjakan harga minyak dunia dan berdampak pada asumsi ICP serta perhitungan APBN 2026 Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|