Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA— Beberapa hari setelah konfrontasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, "perang angka" berkobar bersamaan dengan suara rudal dan pesawat terbang di langit wilayah tersebut.
Sementara kedua belah pihak mengadopsi strategi militer yang mengandalkan pembesaran kerugian lawan dan kerahasiaan penyebaran hasil lengkap kerusakan internal, gambaran kerugian jiwa dan material yang harus dibayar pasukan Amerika dalam operasi "Kemarahan Epik" tersebut mulai terungkap.
Pada Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang bersama yang luas terhadap Iran sejak Sabtu pagi.
Serangan mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pemimpin militer Iran, serta penargetan pertahanan udara dan platform peluncuran rudal.
Tehran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke berbagai wilayah di Israel, serta lokasi-lokasi di negara-negara Teluk, yang mengakibatkan korban jiwa dan cedera serta kerusakan infrastruktur.
Sementara Teheran berbicara melalui media resminya tentang ratusan korban tewas dan terluka di barisan pasukan Amerika dan penargetan kapal perang dan kapal induk, Washington tetap berkomitmen pada pendekatan pengumuman kerugian secara bertahap, yang menyoroti kesenjangan antara dua narasi yang bertentangan.
Berikut ini adalah laporan terbaru dari Aljazeera, dilansir Selasa (10/3/2026), mengenai korban jiwa Amerika sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran.
Pertama, jumlah korban jiwa
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dan Komando Pusat (Centcom) mengakui adanya delapan korban jiwa di kalangan tentara Amerika hingga tanggal 9 Maret.

2 hours ago
2

















































