International Women’s Day 2026: Dari Partisipasi ke Kepemimpinan Substantif Perempuan

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women's Day yang bukan sekadar sebagai seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi dan komitmen untuk memastikan kesetaraan gender tidak berhenti pada slogan.

Dalam dinamika global, posisi perempuan berada di persimpangan antara kerentanan dan kekuatan.

Tahun 2026, IWD mengangkat tema Give to Gain yang mengandung pesan mendalam yaitu ketika kita memberi waktu, pengetahuan, akses, kesempatan, dan dukungan, kita tidak sedang kehilangan, melainkan sedang membangun fondasi keadilan sosial.

Sedangkan pada kerangka Women, Peace and Security (WPS), partisipasi perempuan bukan hanya soal keterwakilan simbolik. Kehadiran perempuan dalam proses perdamaian dan pengambilan keputusan keamanan terbukti meningkatkan kualitas kebijakan serta memperkuat keberlanjutan perdamaian.

Dalam memperingati International Women's Day, Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sekaligus Wakil Ketua II Asosiasi Studi Wanita/Gender Dan Anak Seluruh Indonesia (ASWGI), Dr Debbie Affianty, M.Si membagikan pandangannya tentang urgensi berbagi kuasa, membangun solidaritas, dan memperkuat kepemimpinan perempuan di tengah tantangan multidimensi saat ini.

Tantangan Multidimensi Perempuan

Isu yang dihadapi perempuan saat ini bersifat kompleks dan saling terkait. Kekerasan seksual masih menjadi persoalan serius, baik di ruang domestik, tempat kerja, institusi pendidikan, maupun dalam konteks konflik.

Kekerasan ini bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia, juga bentuk kontrol sosial yang membatasi agensi perempuan. Penanganannya harus sistemik dimulai dari regulasi, mekanisme pelaporan yang responsif, hingga transformasi budaya.

Dalam konteks Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok paling rentan terhadap eksploitasi. Investasi pada perlindungan hukum, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi adalah wujud konkret dari Give to Gain.

Perempuan juga memiliki peran strategis dalam pencegahan ekstremisme kekerasan dan resolusi konflik. Sayangnya, mereka kerap dilihat hanya sebagai korban, bukan aktor perubahan. Padahal, perempuan berperan penting membangun dialog komunitas, mencegah radikalisasi, serta memulihkan relasi sosial.

Di sisi lain, isu climate justice menunjukkan perubahan iklim memperbesar beban ekonomi dan sosial perempuan, terutama di komunitas rentan. Namun keterlibatan mereka dalam kebijakan adaptasi dan mitigasi masih minim.

Memberi ruang kepemimpinan perempuan dalam isu lingkungan berarti memperkuat ketahanan sosial secara keseluruhan.

Transformasi digital pun membawa tantangan baru. Kekerasan berbasis gender daring, penyalahgunaan data, dan eksploitasi digital menjadi ancaman nyata. Literasi serta perlindungan siber harus menjadi bagian dari agenda keamanan kontemporer.

Semua ini menegaskan, kesetaraan gender berkaitan langsung dengan keamanan manusia.

Pendidikan Sebagai Investasi Fundamental

Pendidikan merupakan bentuk investasi paling mendasar dalam semangat Give to Gain. Pendidikan tidak hanya membangun kapasitas intelektual, tetapi juga kesadaran akan hak, potensi, dan agensi diri.

Dalam kerangka Youth, Peace and Security (YPS), pemberdayaan generasi muda perempuan menjadi kunci membangun masa depan yang inklusif dan damai. Namun pendidikan harus lebih dari sekadar akses.

Ia harus mampu membongkar stereotip gender dan menumbuhkan keberanian untuk mengambil keputusan. Anak perempuan yang memperoleh pendidikan dan dukungan akan tumbuh dengan rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan memimpin.

Tanggung Jawab Institusi dan Transformasi Budaya

Institusi memiliki tanggung jawab struktural untuk menciptakan ruang aman dan setara. Kebijakan tegas terhadap kekerasan seksual, sistem pelaporan berperspektif korban, promosi kepemimpinan perempuan di posisi strategis, serta integrasi analisis gender dalam kebijakan merupakan langkah konkret yang harus diambil.

Dalam sektor keamanan dan pertahanan, keberadaan perempuan di level pengambil keputusan memperkuat kualitas tata kelola. Kepemimpinan perempuan menghadirkan pendekatan kolaboratif dan inklusif yang krusial dalam manajemen konflik dan krisis.

Budaya patriarki, yang bekerja melalui norma dan stereotip, masih membatasi perempuan dalam berbagai ruang. Ia memengaruhi cara masyarakat menilai kepemimpinan, membagi peran domestik, hingga menentukan siapa yang dianggap layak mengambil keputusan.

Transformasi budaya dari dominasi menuju kemitraan menjadi prasyarat penting untuk mewujudkan kesetaraan substantif.

Pesan untuk Generasi Muda Perempuan

Kepada generasi muda perempuan, pesan yang disampaikan jelas yaitu milikilah keberanian untuk mengambil ruang. Kepemimpinan bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang konsistensi dan integritas.

Dunia membutuhkan perspektif perempuan dalam isu perdamaian, keamanan, iklim, teknologi, dan kebijakan publik. Bangun solidaritas dan saling dukung. Ketika satu perempuan memperoleh kesempatan, jadikan itu jalan untuk membuka ruang bagi yang lain.

Karena pada akhirnya, makna terdalam dari Give to Gain adalah ketika kita memberi dukungan, ruang, dan kesempatan kepada perempuan, kita sedang membangun masyarakat yang lebih adil, lebih aman, dan lebih berdaya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|