REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Seorang anggota parlemen Iran menyatakan bahwa Teheran akan memberikan balasan setimpal jika AS menggunakan senjata nuklir terhadap Iran. Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas laporan media mengenai kemungkinan serangan semacam itu.
Fada Hossein Maleki, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Iran, Khabar Online.
"Saya tidak menutup kemungkinan adanya tindakan gegabah oleh (Presiden AS Donald) Trump, namun menurut saya dia tidak akan berani melakukan hal itu, karena tindakan semacam itu dapat menjerumuskan dunia ke dalam perang yang berbahaya," kata dia saat ditanya soal kemungkinan AS menyerang Iran dengan bom nuklir.
"Jika tindakan tersebut dilakukan, Republik Islam Iran juga akan memberikan balasan, dan reaksinya akan sepadan dengan jenis senjata yang digunakan terhadap Iran," tambahnya.
Ketika didesak apakah hal ini berarti Iran akan menggunakan senjata nuklir jika AS menyerang Iran dengan senjata nuklir, Maleki menjawab: "Apa pun yang digunakan AS, Iran akan menanggapinya."
Maleki tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Iran memiliki senjata nuklir.
Anggota parlemen tersebut juga memperingatkan Washington agar tidak melakukan tindakan militer lebih lanjut, seraya mengatakan bahwa Iran memiliki "berbagai opsi" dan setiap langkah AS dapat memicu respons "pada tingkat yang sama atau bahkan lebih tinggi."
"Banyak senjata dan kemampuan militer Iran yang belum diungkap ke publik," ujar Maleki, seraya berargumen bahwa Teheran telah beralih dari sikap defensif menuju apa yang ia sebut sebagai "pencegahan aktif dan ofensif."
Beralih ke pembahasan mengenai perundingan Teheran-Washington yang sedang macet, Maleki menuduh Trump gagal memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman antara kedua belah pihak.
Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan kembali ke meja perundingan kecuali Washington mematuhi komitmen sebelumnya, seraya menambahkan bahwa jika tidak, berbagai masalah—termasuk isu Selat Hormuz—akan tetap tidak terselesaikan.
Maleki menyebutkan bahwa pembicaraan Iran dengan Oman merupakan jalur bilateral yang terpisah, dan menambahkan bahwa Teheran menolak keterlibatan AS dalam diskusi tersebut.
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni dengan mediasi Pakistan, yang bertujuan untuk mengakhiri perang di antara mereka dan membuka jalan bagi perundingan menuju kesepakatan akhir.
Sejak saat itu, perundingan mengalami kebuntuan di tengah perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman tersebut, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Ketegangan terbaru ini menyusul permusuhan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu Teheran untuk melakukan pembalasan terhadap target-target serta aset AS dan Israel di seluruh kawasan tersebut.

1 hour ago
2















































