Petani gaharu menunjukan bibit pohon gaharu di Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (11/12/2024). Pohon Gaharu (Aquilaria malaccensis) merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan warga setempat untuk dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kayu gaharu tersebut dapat dijumpai di wilayah hutan hujan tropis seperti di Indonesia, Bangladesh, Bhutan, India, Iran, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Thailand. Gaharu tersebut biasanya digunakan untuk bahan dasar parfum, obat batuk, anti jamur dan insektisida dengan harga jual sekitar Rp4 juta per kilogram. Budidaya pohon gaharu tersebut merupakan bagian dari program YAPEKA dalam konsorsium Konservasi Rimbang Baling bersama Masyarakat yang Berdaulat (Kerabat) untuk meningkatkan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar selain tanaman komiditi karet.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia meluncurkan kampanye “No Forests, No Future” sebagai gerakan moral lintas iman untuk memperkuat perlindungan hutan tropis dan masyarakat adat di Indonesia. Peluncuran ini menandai dimulainya fase ketiga IRI Indonesia periode 2025–2029 sekaligus memperluas kolaborasi lintas sektor.
Dalam pernyataannya, IRI mengungkapkan kampanye "No Forest, No Future" tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi ruang konsolidasi gagasan dan komitmen bersama merespons tekanan terhadap hutan yang kian meningkat. Fasilitator Nasional IRI Indonesia Hening Parlan mengatakan kampanye ini hadir sebagai respons atas meningkatnya ancaman terhadap hutan tropis dalam beberapa dekade terakhir.
“Hutan bukan sekadar bentang alam. Ia menjaga air yang kita minum, menstabilkan iklim, dan menopang kehidupan masyarakat adat. Jika hutan hilang, maka masa depan juga ikut hilang,” ujar dia dalam peluncuran kampanye di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Menurut dia, upaya perlindungan hutan selama ini cenderung menitikberatkan pendekatan teknokratis, sementara dimensi moral dan nilai belum dimaksimalkan. Dengan lebih dari 90 persen penduduk Indonesia memeluk agama, Hening menilai pendekatan berbasis nilai memiliki potensi besar untuk mendorong kesadaran kolektif.
Peluncuran kampanye ini tidak terlepas dari kondisi hutan Indonesia yang terus tertekan akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, pembalakan, hingga pembangunan skala besar. Deforestasi berdampak pada hilangnya tutupan hutan, mempercepat krisis iklim, serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat.
Perwakilan dewan penasihat IRI Indonesia M. Ali Yusuf mengatakan kekuatan agama, masyarakat adat, akademisi, dan organisasi sipil perlu dihimpun dalam satu gerakan bersama. “IRI ingin mengakselerasi perlindungan hutan tropis dengan menghimpun kekuatan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,”tegas dia.
Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional Fachruddin Mangunjaya menilai akar persoalan kerusakan hutan terletak pada perilaku manusia. Ia menekankan nilai-nilai agama seperti larangan merusak, dorongan berbagi, dan pengendalian diri dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga lingkungan.

8 hours ago
2















































