REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sebuah kisah hikmah dari ulama besar Malik bin Dinar, kembali mengingatkan bahwa sedekah tidak boleh dilakukan setengah hati. Melalui dialog sederhana namun sarat makna antara Malik bin Dinar dan istrinya, tersingkap pelajaran mendalam tentang keikhlasan memberi, serta perumpamaan tajam antara mempersembahkan hadiah kepada raja dan memberi kepada seorang pengemis, yang menegaskan bahwa sedekah sejatinya adalah bukti kesungguhan iman.
Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin mengisahkan, pada suatu hari Malik bin Dinar sedang duduk-duduk. Kemudian datanglah seorang pengemis. Saat itu Malik bin Dinar memiliki sekeranjang kurma. Ia berkata kepada istrinya, “Ambilkan kurma itu kemari.”
Malik bin Dinar lalu mengambil kurma tersebut dan memberikan setengah keranjang kepada pengemis, sementara separuh lainnya dikembalikan kepada istrinya.
Istrinya kemudian berkata, “Apakah orang sepertimu dapat dikatakan sebagai orang yang zuhud? Pernahkah kamu melihat seseorang mengirimkan hadiah kepada raja hanya separuh keranjang?”
Mendengar perkataan dari istrinya, Malik bin Dinar meminta kembali sisa kurma yang separuh keranjang tersebut dan memberikannya kepada pengemis.
Malik bin Dinar kemudian mendekati istrinya dan berkata, “Wahai istriku, rajin-rajinlah dan bersungguh-sungguhlah, karena Allah Ta‘ala berfirman.”
(Allah berfirman,) “Tangkap dia lalu belenggu tangannya ke lehernya. Kemudian, masukkan dia ke dalam (neraka) Jahim. Kemudian, belit dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (QS Al-Ḥaqqah Ayat 30-32)
Istri Malik bin Dinar bertanya, “Mengapa sedemikian beratnya?”
Malik menjawab dengan membacakan ayat Alquran.
"Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung. Dia juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin." (QS Al-Ḥaqqah Ayat 33-34)

1 day ago
6
















































