J-20 vs F-35: Saat Perang Jumlah Mulai Menantang Keunggulan Teknologi

4 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Persaingan antara pesawat tempur siluman Chengdu J-20 Mighty Dragon milik China dan Lockheed Martin F-35 Lightning II Amerika Serikat memasuki babak baru. Jika selama satu dekade terakhir perdebatan lebih banyak berpusat pada teknologi siluman, sensor, dan kemampuan tempur, kini perlombaan bergeser ke aspek lain yang tak kalah menentukan, yakni kapasitas produksi dan ukuran armada.

Perkembangan terbaru menunjukkan Beijing dan Washington kini berlomba membangun armada pesawat tempur generasi kelima dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut laporan 19FortyFive yang mengutip paparan J. Michael Dahm, Senior Fellow Mitchell Institute for Aerospace Studies, dalam AFA Warfare Symposium di Aurora, Colorado, pada Februari 2026, analisis citra satelit komersial memperlihatkan kompleks pabrik Chengdu Aircraft Corporation telah diperluas hingga sekitar 8 juta kaki persegi. Perluasan fasilitas tersebut diperkirakan memungkinkan kapasitas produksi J-20 menembus lebih dari 100 unit per tahun.

Dalam paparannya, Dahm mengatakan, "Persediaan pesawat tempur dan pesawat serang China akan meningkat secara signifikan dalam lima tahun ke depan." Ia juga menjelaskan bahwa "Analisis citra satelit komersial dan berbagai peningkatan infrastruktur menunjukkan pabrik Chengdu telah meningkatkan kapasitasnya dan berpotensi memproduksi hingga 100 unit J-20 setiap tahun," sebagaimana dilaporkan 19FortyFive beberapa waktu lalu.

Temuan tersebut diperkuat oleh analisis Royal United Services Institute (RUSI) yang memperkirakan produksi J-20 sepanjang 2025 telah mencapai sekitar 120 unit. RUSI juga menilai kapasitas produksi seluruh pesawat tempur China dapat meningkat menjadi 300 hingga 400 unit per tahun dalam beberapa tahun mendatang. Meski demikian, angka-angka tersebut merupakan estimasi lembaga riset Barat berdasarkan analisis citra satelit dan kapasitas industri, bukan data resmi pemerintah China yang hingga kini tidak memublikasikan jumlah produksi J-20 secara terbuka.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mempercepat penguatan armada tempur generasi kelima melalui F-35. Berdasarkan proyeksi Lockheed Martin yang juga dikutip 19FortyFive, sekitar 450 unit F-35 diperkirakan akan beroperasi di kawasan Eropa pada 2030. Sementara itu, armada J-20 dilaporkan telah melampaui 300 unit, dan sejumlah analis memperkirakan jumlahnya dapat mendekati 1.000 pesawat pada akhir dekade ini apabila laju produksi saat ini terus dipertahankan. Proyeksi tersebut juga merupakan estimasi para analis, bukan target resmi yang diumumkan Beijing.

Perkembangan ini menunjukkan rivalitas J-20 dan F-35 tidak lagi sekadar membandingkan pesawat mana yang memiliki teknologi siluman, radar, atau sensor paling canggih. Persaingan kini memasuki fase baru berupa "numbers race", yakni perlombaan membangun armada pesawat tempur generasi kelima dalam jumlah besar. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Indo-Pasifik dan Eropa, jumlah pesawat yang siap diterbangkan dipandang semakin menentukan keseimbangan kekuatan udara, sama pentingnya dengan keunggulan teknologi yang dibawa masing-masing platform.

Dua Filosofi yang Berbeda

Meski sama-sama dikategorikan sebagai pesawat tempur siluman generasi kelima, J-20 dan F-35 dikembangkan dengan filosofi yang sangat berbeda.

J-20 diproduksi oleh Chengdu Aircraft Industry Group (CAIG) yang berada di bawah Aviation Industry Corporation of China (AVIC). Pesawat ini melakukan penerbangan perdana pada Januari 2011 dan secara resmi mulai bertugas di Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) sekitar 2017. Hingga kini, J-20 dioperasikan secara eksklusif oleh China dan belum ditawarkan untuk pasar ekspor.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|