Jangan Asal Pasang Behel, Dokter Gigi Jelaskan Mitos dan Faktanya

4 hours ago 6

Harianjogja.com, JOGJA—Kawat gigi atau behel masih sering dianggap sebagai bagian dari gaya penampilan, khususnya di kalangan remaja. Padahal, perangkat tersebut merupakan bagian dari perawatan ortodonti yang penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan pasien.

Dokter gigi spesialis ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKG UMY), drg. Puspitarini Nindya Wardana, Sp.Ort., meluruskan sejumlah anggapan yang masih berkembang mengenai penggunaan behel.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam talk show kesehatan gigi di Auditorium Graha Bhumi Phala, Temanggung, Jumat (28/8/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Community Service #3 FKG UMY yang memberikan edukasi kesehatan gigi dan mulut kepada pelajar serta masyarakat umum.

Behel Tidak Membuat Pipi Otomatis Tirus

Salah satu anggapan yang banyak beredar adalah penggunaan behel dapat membuat pipi menjadi lebih tirus. Puspitarini menegaskan anggapan tersebut tidak tepat.

“Behel itu tidak dapat menjadikan pipi tirus. Kalaupun ada perubahan wajah, itu karena pencabutan gigi,” ungkap Puspitarini.

Perawatan ortodonti memang dapat memengaruhi penampilan wajah pada sebagian pasien. Namun, perubahan tersebut bergantung pada kondisi gigi dan rahang sebelum perawatan serta rencana tindakan yang ditentukan untuk setiap pasien.

Dengan demikian, behel tidak seharusnya dipasang dengan tujuan utama membentuk wajah atau mendapatkan pipi yang lebih tirus.

Selain soal bentuk wajah, Puspitarini mengingatkan masyarakat agar tidak menentukan tempat pemasangan behel hanya berdasarkan harga. Perawatan ortodonti yang aman tidak hanya bergantung pada jenis perangkat, tetapi juga pemeriksaan awal, kualitas bahan, perencanaan perawatan, serta kompetensi tenaga kesehatan yang menangani.

Konsultasi diperlukan sebelum pemasangan agar kondisi gigi dan kebutuhan pasien dapat diketahui secara tepat.

Tekanan Kawat Lebih Kuat Bukan Berarti Lebih Cepat

Mitos lain yang juga masih dipercaya adalah anggapan bahwa semakin kuat kawat memberikan tekanan, semakin cepat gigi berpindah ke posisi yang diinginkan.

Puspitarini menjelaskan pergerakan gigi merupakan proses biologis yang membutuhkan waktu. Karena itu, tekanan ortodonti tidak boleh diberikan secara berlebihan hanya untuk mempercepat hasil.

“Kalau kontrol rutin setiap bulan, pergerakan maksimalnya sekitar satu milimeter. Kalau terlalu dikejar, itu justru enggak bagus,” imbuhnya.

Pergerakan gigi terjadi melalui respons jaringan periodontal dan tulang alveolar terhadap gaya ortodonti. Pemberian gaya yang terlalu besar justru dapat meningkatkan risiko efek yang tidak diinginkan, termasuk resorpsi akar gigi.

Karena itu, rasa sakit atau tekanan yang lebih kuat bukan tanda bahwa behel bekerja lebih efektif. Perawatan tetap harus dilakukan dengan gaya dan jadwal kontrol yang sesuai dengan kondisi pasien.

Behel Dilepas Bukan Berarti Perawatan Selesai

Melepas behel bukan menjadi tahap terakhir dalam seluruh rangkaian perawatan ortodonti. Setelah fase aktif selesai, pasien umumnya masih perlu menggunakan retainer sesuai rekomendasi dokter.

Retainer berfungsi membantu mempertahankan posisi gigi yang telah diperbaiki selama perawatan. Penggunaan alat tersebut penting karena gigi masih memiliki kecenderungan untuk bergeser kembali setelah behel dilepas.

Kepatuhan pasien dalam menggunakan retainer menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan hasil perawatan.

Lama dan pola penggunaan retainer tidak selalu sama untuk setiap pasien. Karena itu, pasien perlu mengikuti petunjuk dokter gigi yang menangani perawatannya.

Tidak Semua Orang Perlu Menggunakan Behel

Tren penggunaan kawat gigi tidak berarti setiap orang membutuhkan perawatan ortodonti. Puspitarini menegaskan keputusan menggunakan behel harus didasarkan pada indikasi medis dan hasil pemeriksaan.

“Klaim bahwa semua orang perlu behel itu mitos. Penggunaan behel itu harus ada indikasi medis,” ujar Puspitarini.

Sejumlah kondisi dapat menjadi pertimbangan untuk menjalani evaluasi ortodonti, antara lain gigi berjejal, jarak antargigi yang tidak normal, serta gangguan hubungan gigitan.

Masalah gigitan tersebut dapat berupa gigitan dalam, gigitan terbuka, maupun gigitan silang. Kondisi susunan gigi dan hubungan rahang yang tidak sesuai juga dapat memengaruhi fungsi pengunyahan.

Kementerian Kesehatan menjelaskan kawat gigi dapat digunakan untuk membantu memperbaiki susunan dan hubungan gigi yang tidak teratur. Kondisi gigi yang terlalu rapat, terlalu renggang, berjejal, maupun hubungan rahang yang tidak sesuai dapat menjadi alasan seseorang menjalani evaluasi ortodonti.

Namun, adanya salah satu kondisi tersebut tidak serta-merta berarti pasien harus menggunakan behel. Dokter tetap perlu melakukan pemeriksaan dan menentukan diagnosis serta rencana perawatan sesuai kebutuhan masing-masing pasien.

Jangan Pasang Behel Hanya karena Tren

Puspitarini mengimbau masyarakat melakukan konsultasi dengan dokter gigi sebelum memutuskan menggunakan kawat gigi. Pemeriksaan dibutuhkan untuk mengetahui kondisi gigi, jaringan pendukung, serta kebutuhan perawatan pasien.

Masyarakat juga diharapkan tidak menjadikan tren, keinginan mengubah penampilan, atau harga sebagai satu-satunya pertimbangan ketika memilih perawatan ortodonti.

Pemahaman yang benar mengenai fungsi behel menjadi semakin penting, terutama di tengah tingginya minat penggunaan kawat gigi di kalangan remaja.

Behel pada dasarnya bukan aksesori. Penggunaannya merupakan bagian dari perawatan gigi dan mulut yang membutuhkan indikasi, pemeriksaan, perencanaan, serta pemantauan oleh tenaga profesional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|