
Oleh: Syuhelmaidi Syukur, Chairman Harika Foundation, Mahasiswa Pascasarjana Institut SEBI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suatu hari, kita mungkin pernah berdiri di depan kotak amal. Tangan sudah merogoh saku, lalu berhenti. Ada suara kecil dalam hati: “Nanti saja kalau penghasilan sudah lebih besar.” Kita menutup dompet, lalu pergi dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Kita tidak sedang menolak kebaikan. Kita hanya menundanya. Di zaman ketika keberhasilan diukur dari saldo, aset, dan capaian materi, sedekah sering ditempatkan sebagai aktivitas “kelas mapan”.
Seolah-olah berbagi adalah kemewahan yang hanya pantas dilakukan ketika hidup sudah aman sepenuhnya. Padahal, dalam Islam, sedekah bukanlah puncak kemapanan. Ia fondasi keimanan.
Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan umatnya menunggu kaya untuk memberi. Justru beliau memuji orang yang bersedekah dalam keadaan sempit. Karena saat itulah keimanan benar-benar diuji: ketika seseorang memilih berbagi di tengah rasa takut kekurangan.
QS Al-Baqarah: 261 menggambarkan, sedekah seperti sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkai berisi seratus biji. Sebuah gambaran tentang hukum pertumbuhan ilahiah: apa yang dilepaskan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar hilang.
Kita sering lupa, yang membuat seseorang mulia bukan karena ia memberi setelah kaya. Namun karena ia tetap memberi meski belum merasa cukup.
Memberi dalam Keterbatasan
Banyak kisah teladan menunjukkan, kedermawanan tidak lahir dari kelimpahan tetapi dari keyakinan. Orang-orang yang memberi dalam keterbatasan justru memperlihatkan kualitas iman paling jernih: percaya rezeki tidak semata-mata hasil hitungan manusia.
Memberi saat lapang memang mudah. Tetapi memberi saat sempit adalah latihan kepercayaan. Sedekah mengajarkan kita untuk tidak diperbudak rasa takut kehilangan. Ia melatih hati untuk percaya apa yang dilepas di jalan kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.
Teladan dari Generasi Awal
Sejarah Islam mencatat kisah yang begitu menggetarkan. Ketika seruan infak untuk Perang Tabuk dikumandangkan, para sahabat berlomba-lomba membawa harta terbaik mereka. Di antara mereka hadir Abu Bakar, yang membawa seluruh hartanya. Ketika Nabi bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Di kesempatan lain, Umar bin Khattab membawa separuh hartanya, berharap dapat melampaui Abu Bakar. Namun, ia mendapati dalam urusan memberi, ada orang-orang yang melampaui hitungan rasional.
Hal mengharukan, ternyata bukan hanya orang-orang berharta yang bersedekah. Ada pula sahabat yang hanya mampu membawa segenggam kurma. Nilainya mungkin kecil di mata manusia tetapi besar di sisi Allah.
Sebab, ia memberi dari apa yang ia miliki. Bukan dari apa yang ia sisakan. Dalam riwayat lain, ada seorang perempuan miskin yang datang membawa satu butir kurma untuk disedekahkan. Rasulullah menerimanya dengan penuh penghargaan.
Sebab, sedekah bukan tentang kuantitas, melainkan kualitas keikhlasan. Kisah-kisah ini mengajarkan satu hal: budaya memberi tidak lahir dari kelimpahan, tetapi dari keyakinan.
Kisah di Tengah-Tengah Kita
Beberapa waktu lalu, di sebuah sudut kota, seorang pengemudi ojek daring bercerita tentang kebiasaannya. Setiap hari, dari penghasilan yang tak menentu, ia menyisihkan dua ribu rupiah untuk dimasukkan ke kotak amal masjid dekat rumahnya.
“Tidak besar,” katanya sambil tersenyum, “tapi biar hati saya tidak merasa paling susah.” Kalimat ini sederhana tetapi dalam maknanya. Ia tidak menunggu order ramai. Ia tidak menunggu bonus cair. Ia memberi di tengah ketidakpastian.
Ada pula seorang pedagang kecil di pasar tradisional. Keuntungannya tak seberapa.
Namun setiap Jumat, ia membagikan nasi bungkus kepada tukang becak dan buruh angkut. Ketika ditanya mengapa tetap berbagi di tengah usaha yang naik turun, ia menjawab, “Kalau saya berhenti memberi karena takut kurang, nanti hati saya jadi lebih miskin dari dompet saya.”
Kisah-kisah seperti ini mungkin tak pernah masuk berita utama. Tidak viral. Tidak menjadi headline. Namun, di sanalah justru makna sedekah menemukan wajahnya yang paling jujur. Mereka tidak kaya secara angka tetapi kaya dalam keberanian mempercayai Allah.
Membentuk Jiwa Kaya Sejak Dini
Maka pertanyaannya bukan lagi, “Sudahkah kita kaya untuk bersedekah?”melainkan, “Sudahkah kita membiasakan diri untuk berbagi?” Sebab, sedekah adalah latihan jiwa, mendidik hati agar tak dikuasai harta.
Anak yang dibiasakan menyisihkan sebagian uang jajannya sedang belajar bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Jika sejak kecil seseorang terbiasa memberi, ia akan tumbuh dengan mentalitas cukup.
Ia tidak mudah gelisah ketika melihat orang lain lebih berhasil. Ia tidak merasa terancam ketika rezekinya turun. Karena ia tahu, keberkahan tidak identik dengan jumlah.
Sebaliknya, jika kita terus menunda sampai “cukup”, kita mungkin terjebak dalam lingkaran tak berujung. Definisi cukup selalu bergerak. Ketika penghasilan naik, kebutuhan ikut naik. Ketika tabungan bertambah, keinginan ikut membesar.
Sedekah justru memutus lingkaran itu. Ia menegaskan kecukupan bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa lapang kita berbagi.
Sedekah Sebagai Gerakan Sosial
Jika potensi zakat nasional mencapai ratusan triliun rupiah, maka potensi sedekah partisipatif sesungguhnya jauh lebih besar lagi. Masalahnya bukan kurangnya kemampuan, tetapi kurangnya kebiasaan.
Sedekah harus bergerak dari kesadaran individu menuju budaya kolektif. Dari aksi insidental menuju gaya hidup.
Bayangkan jika sedekah menjadi kebiasaan harian: lima ribu rupiah per orang, per hari. Angka kecil itu mungkin tak terasa berat tetapi ketika dikalikan jutaan orang, ia berubah menjadi kekuatan sosial luar biasa.
Di tengah ketimpangan dan krisis, sedekah bukan sekadar amal pribadi. Ia instrumen pemerataan dan penguat solidaritas.
Di samping itu, akan semakin banyak proyek amal dan kemanusiaan yang terbangun, seperti sekolah gratis, modal bagi UMKM, juga petani, peternak, pedagang kecil akan terlepas dari ijon/tengkulak.
Kaya yang Sesungguhnya
Rasulullah SAW pernah mengingatkan,kekayaan bukanlah banyaknya harta tetapi kaya hati. Kaya hati adalah kondisi ketika seseorang merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan ringan untuk memberi dari apa yang ada. Sedekah melatih kita menuju kekayaan jenis ini.
Ia menenangkan kecemasan. Ia membersihkan keserakahan. Ia memperkuat solidaritas. Lebih dari itu, ia menjadi saksi, harta hanyalah titipan yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.
Jangan Tunggu Kaya untuk Bersedekah
Bersedekahlah agar hati kita belajar merasa cukup. Bersedekahlah agar tangan kita terbiasa melepas, bukan menggenggam. Bersedekahlah agar hidup kita tidak hanya tentang memiliki, tetapi tentang memberi makna.
Maka, jangan tunggu kaya baru kita bersedekah, tapi teruslah bersedekah hingga kita kaya. Wallahu a’lam bish shawab.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
2










































