Jogja Bergelora! 500 Anak Muda Suarakan Perlawanan Lewat Konser

2 hours ago 1

Jogja Bergelora! 500 Anak Muda Suarakan Perlawanan Lewat Konser

Ratusan orang memadati konser yang digelar Social Movement Institute di Titik Nol Kilometer Jogja, Kamis (21/5/2026) sore. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Suasana Titik Nol Kilometer Jogja mendadak berubah menjadi ruang ekspresi sekaligus perlawanan, Kamis (21/5/2026) sore. Ratusan anak muda berkumpul dalam konser bertajuk “Bangkitlah Anak Muda”, menyuarakan keresahan sekaligus membangun solidaritas di tengah menguatnya isu kriminalisasi aktivis.

Lebih dari 500 orang memadati kawasan ikonik tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati musik, tetapi juga mengikuti rangkaian orasi politik yang sarat kritik sosial. Panggung sederhana di ruang publik itu menjadi simbol bahwa suara anak muda tetap hidup, meski dibayangi rasa takut.

Aktivis Delpedro Marhaen menegaskan, konser ini lahir dari kebutuhan untuk mengembalikan keberanian setelah sejumlah peristiwa yang menimpa aktivis dalam beberapa waktu terakhir.

“Acara ini untuk menghilangkan rasa takut setelah penangkapan aktivis Agustus 2025 dan teror terhadap Andrie Yunus. Sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap militerisme dan untuk merawat solidaritas,” ujarnya di sela kegiatan.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional pun dimanfaatkan sebagai titik refleksi. Bagi para peserta, kebangkitan tidak hanya dimaknai secara historis, tetapi juga sebagai ajakan untuk kembali bersuara di ruang publik yang semakin terasa sempit bagi sebagian kalangan.

Menurut Delpedro, ruang publik seharusnya menjadi milik bersama tanpa sekat. Ekspresi politik, baik melalui demonstrasi maupun seni seperti konser, memiliki posisi yang setara.

“Tidak ada pembeda. Semua punya hak untuk menyampaikan pendapat dengan caranya masing-masing,” katanya.

Senada, aktivis lain, Paul, menilai geliat gerakan anak muda di Jogja sejatinya masih kuat. Hanya saja, pola gerak kini lebih tersebar dalam berbagai komunitas dan isu, tidak lagi terpusat dalam satu kekuatan besar.

Ia menyebut sejumlah kelompok seperti Ibu Berisik, Poros BEM, hingga komunitas literasi tetap aktif menggerakkan isu masing-masing.

“Antusiasme itu masih ada, tapi sekarang menyebar. Ini menunjukkan gerakan tetap hidup, hanya bentuknya berbeda,” ujarnya.

Dalam refleksi yang lebih luas, isu penegakan hukum dan hak asasi manusia menjadi sorotan utama. Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, misalnya, dinilai harus diselesaikan secara transparan melalui peradilan umum.

“Semangat reformasi itu soal akuntabilitas hukum dan HAM. Kami berharap pemerintah bisa menuntaskan kasus ini secara adil,” kata Delpedro.

Konser ini bukan sekadar acara satu hari. Bagi para peserta, ini menjadi titik awal konsolidasi baru. Dari ruang terbuka di jantung Jogja, mereka mencoba merajut kembali keberanian—bahwa di tengah tekanan, suara anak muda tetap menemukan jalannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|