Kabel Laut, Drone, hingga Serangan Siber: Rusia dan NATO Makin Intens Berkonfrontasi

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat dan lebih dari selusin negara sekutunya menuding kelompok peretas yang didukung pemerintah Rusia menjalankan operasi spionase siber terhadap jaringan pemerintah dan komersial di Ukraina, Amerika, serta negara-negara anggota NATO.

Dalam peringatan bersama yang diterbitkan pada Kamis (23/7/2026), badan intelijen dan keamanan siber dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, Belanda, Denmark, Republik Ceska, dan sejumlah negara Eropa mengaitkan operasi tersebut dengan kelompok bernama Laundry Bear.

Kelompok itu dituduh memanfaatkan celah keamanan pada layanan surat elektronik Zimbra. Pada perangkat lunak yang belum diperbarui, korban dapat diretas hanya dengan membuka surat elektronik berbahaya, tanpa harus mengeklik tautan atau mengunduh lampiran.

Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat atau NSA mengatakan kampanye tersebut berlangsung setidaknya sejak Juli 2025. Peretas disebut berupaya mengambil direktori surat elektronik, komunikasi korban selama 90 hari terakhir, dan informasi sensitif lainnya. Rusia biasanya membantah keterlibatan pemerintahnya dalam operasi peretasan terhadap negara-negara Barat.

Pada hari yang sama, Uni Eropa mengesahkan paket sanksi ke-21 terhadap Rusia. Paket tersebut antara lain melarang 41 kapal tambahan yang dikaitkan dengan armada bayangan Rusia memasuki pelabuhan Uni Eropa dan memperoleh berbagai layanan maritim.

Sanksi juga mencakup 48 individu dan 170 entitas, larangan transaksi terhadap 33 lembaga keuangan Rusia dan empat bank di luar Rusia, serta pembatasan terhadap 14 platform layanan aset kripto. Uni Eropa mengatakan kapal-kapal armada bayangan digunakan untuk mempertahankan pendapatan energi Rusia dan menghindari pembatasan Barat.

Dua perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana perseteruan Rusia dan Barat tidak hanya berlangsung di medan perang Ukraina. Pertarungan meluas ke ruang siber, jalur pelayaran, kabel bawah laut, sistem navigasi satelit, pangkalan militer, serta infrastruktur energi dan transportasi Eropa.

Namun, apakah Rusia dan NATO benar-benar telah berperang?

Jawabannya, apabila menggunakan ukuran hukum dan militer, adalah belum. Tidak ada pertempuran terbuka yang terorganisasi antara angkatan bersenjata Rusia dan NATO. Aliansi tersebut juga belum mengaktifkan Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara terhadap Rusia.

Yang sedang berlangsung adalah konfrontasi di zona abu-abu: tindakan bermusuhan yang dirancang untuk menekan dan melemahkan lawan, tetapi dipertahankan di bawah ambang yang dapat memicu perang terbuka.

Negara Baltik Memperingatkan Operasi Terbatas

Peringatan paling serius datang dari sisi timur NATO. Presiden Lithuania Gitanas Nausėda pada Rabu (15/7/2026) mengatakan penilaian intelijen menunjukkan Rusia berpotensi merencanakan serangan terhadap infrastruktur penting di negara-negara Baltik atau Polandia.

Menurut Nausėda, informasi tersebut berkaitan dengan kemungkinan “operasi kinetik terbatas” yang menyasar jaringan energi, transportasi, atau fasilitas yang menopang hubungan Lithuania dengan jaringan listrik Eropa.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|