Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan tarif perdagangan terhadap berbagai negara di dunia, yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (3/4/2025), juga menargetkan sebuah negara kerajaan kecil yang berlokasi di Selatan Afrika, yakni Lesotho.
Trump mengenakan tarif perdagangan resiprokal ke Lesotho hingga 50%, jauh lebih tinggi dari yang dikenakan terhadap Indonesia sebesar 32%. Sejumlah ekonom menilai tarif itu akan mematikan Lesotho sebagai salah satu negara termiskin di dunia, dengan PDB sekitar US$ 2 miliar.
"Tarif timbal balik sebesar 50% yang diperkenalkan oleh pemerintah AS akan mematikan sektor tekstil dan pakaian jadi di Lesotho," kata Thabo Qhesi, pakar perdagangan yang juga menjadi CEO of Private Sector Foundation of Lesotho kepada Reuters, Jumat (4/4/2025).
Trump memang secara terbuka telah menyinggung Lesotho sebagai negara "yang tidak pernah didengar siapapun", namun memiliki surplus perdagangan yang besar dengan Amerika Serikat, yang sebagian besar berupa berlian dan tekstil, termasuk celana jeans Levi's.
Ekspornya ke Amerika Serikat pada 2024 berjumlah US$237 juta, menyumbang lebih dari 10% PDB-nya.
Trump mengatakan tarif "timbal balik" tersebut merupakan respons terhadap bea masuk dan hambatan non-tarif lainnya yang dikenakan pada barang-barang AS. Lesotho mengenakan tarif sebesar 99% pada barang-barang Amerika, menurut pemerintah AS.
Oxford Economics mengatakan sektor tekstil, dengan sekitar 40.000 pekerja, merupakan pemberi kerja swasta terbesar di Lesotho dan menyumbang sekitar 90% lapangan pekerjaan manufaktur dan ekspor.
"Lalu ada pengecer yang menjual makanan. Lalu ada pemilik properti perumahan yang menyewakan rumah untuk para pekerja. Jadi ini berarti jika pabrik ditutup, industri akan mati dan akan ada efek berganda," kata Qhesi. "Jadi Lesotho akan mati." katanya.
Pemerintah Lesotho, negara pegunungan berpenduduk sekitar 2 juta orang yang dikelilingi oleh Afrika Selatan, belum memberikan komentar langsung mengenai tarif perdagangan tersebut pada hari Kamis.
Menteri luar negerinya mengatakan kepada Reuters bulan lalu bahwa negara tersebut, yang memiliki salah satu tingkat infeksi HIV/AIDS tertinggi di dunia, telah merasakan dampak pemotongan bantuan dari USAID karena sektor kesehatannya bergantung pada lembaga bantuan yang telah ditutup Trump itu.
Seorang penjual jagung di Maseru, Sekhoane Masokela, melihat pengumuman Trump sebagai alasan untuk mencari pasar baru.
"Negara itu (Trump) bukan satu-satunya, jadi dia memberi kita kesempatan untuk memutus hubungan dengannya dan mencari negara lain. Jelas bahwa dia tidak lagi ingin berhubungan dengan kita," kata Masokela.
(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: 9 Respons Pemerintah Setelah RI Kena Tarif Impor 32% Dari Trump
Next Article Awas! Gara-Gara Trump, RI Bisa Banjir Produk China