REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Pengelola Investasi (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan Danantara telah menerima investasi 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 23,66 triliun untuk pembangunan pabrik pendukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 50 gigawatt (GW). Rosan menjelaskan, pabrik tersebut, jika nantinya rampung, dapat mendukung rencana pemerintah mempercepat pembangunan PLTS di sejumlah desa, khususnya desa yang telah memiliki jaringan distribusi listrik.
"Kebetulan sudah ada investasi yang masuk ke Indonesia. Pabrik itu akan selesai tahun ini dengan nilai investasi 1,4 miliar dolar AS dan kapasitas 50 gigawatt. Jadi investasi itu sudah masuk dan akhir tahun ini akan selesai. Itu juga akan membantu agar kita dapat menggunakan produksi dalam negeri untuk proyek percepatan PLTS ini," kata CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani saat ditemui selepas rapat terbatas membahas percepatan transisi energi bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Di Istana, Kamis siang hingga sore hari, Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama CEO Danantara yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Dalam rapat tersebut, Presiden membentuk satuan tugas (Satgas) percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT). Satgas tersebut dipimpin oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Terkait percepatan transisi itu, Rosan menyampaikan Danantara saat ini telah membangun satu prototipe PLTS berkapasitas 1 megawatt (MW) di Sumenep, Madura, Jawa Timur.
"Prototipe itu akan ditinjau dan dilihat langsung oleh tim, baik dari ESDM maupun Mendikti, untuk kemudian dapat di-roll out," kata Rosan.
Rosan melanjutkan, Presiden Prabowo dalam rapat yang sama telah menginstruksikan kepada Danantara untuk mempelajari opsi-opsi pembiayaan pembangunan PLTS di beberapa desa di Indonesia.
"Bapak Presiden memberikan arahan agar pembangunan ini dapat dilakukan dengan beberapa opsi pendanaan. Kami diminta melihat dan mempelajari strukturnya, bekerja sama dengan entitas dalam negeri maupun pihak swasta yang memiliki teknologi serta kemampuan di bidang tenaga surya dan baterai. Itu pembicaraan yang tadi berlangsung, fokusnya ada di situ," ujar CEO Danantara.
sumber : Antara

3 hours ago
3
















































