Kenali Gejala Virus Nipah, Penularan, Hingga Pengobatannya

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wabah virus Nipah di negara bagian Benggala Barat, India, memicu kekhawatiran di sejumlah negara. Beberapa bandara internasional di Asia seperti Thailand dan Nepal mulai menerapkan skrining kesehatan bagi penumpang dari India sebagai langkah pencegahan.

Sejauh ini lima kasus terkonfirmasi, termasuk di antaranya dokter dan perawat, telah menyebabkan karantina terhadap sekitar 100 orang serta perawatan intensif di beberapa fasilitas kesehatan di Kolkata. Kementerian Kesehatan India menyatakan 196 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan pasien terinfeksi telah menjalani tes dan seluruhnya dinyatakan negatif.

Apa itu virus Nipah?

Ahli kesehatan masyarakat dan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan virus Nipah merupakan virus sangat patogenik dan termasuk virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae. Virus ini bersifat zoonotik, artinya penularan awalnya terjadi dari hewan (seperti kelelawar dan babi) ke manusia.

"Dalam perkembangannya, virus Nipah juga mampu menular antarmanusia seperti di India sekarang ini, selain melalui makanan yang terkontaminasi," demikian kata Prof Tjandra dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (28/1/2026). Penularan antar manusia pada virus Nipah terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, termasuk air liur dan sekresi pernapasan.

Gejala

Prof Tjandra mengungkap gejala awal virus ini biasanya mirip flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun, penyakit ini dapat berkembang menjadi masalah serius, terutama pada paru-paru. Pada sistem pernapasan, pasien dapat mengalami batuk dan sesak napas, yang kemudian berkembang menjadi pneumonia.

Selain itu, penyakit ini juga dapat menyerang sistem saraf pusat dan menimbulkan ensefalitis, dengan beberapa kasus berkembang menjadi meningitis. Gejala neurologis yang muncul meliputi kebingungan, gangguan kesadaran, kejang, hingga koma pada kasus yang berat. Masa inkubasi umumnya berkisar 4-14 hari, namun WHO mencatat bahwa dalam beberapa kasus dapat mencapai hingga 45 hari.

Seberapa mematikan virus Nipah?

Dilansir laman Global News, Rabu (28/1/2026) tingkat kematian akibat virus Nipah berkisar antara 45 hingga 75 persen. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk manusia maupun hewan.

Pada Desember 2025, para peneliti dari Universitas Oxford, bekerja sama dengan International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh, meluncurkan uji klinis fase dua pertama di dunia untuk vaksin virus Nipah, yang melibatkan 306 relawan sehat berusia 18-55 tahun. Sebagian besar pasien yang selamat dari ensefalitis akut dapat pulih sepenuhnya. Namun, WHO melaporkan adanya komplikasi neurologis jangka panjang, termasuk meningitis, pada sebagian penyintas. Sekitar 20 persen pasien yang sembuh mengalami gangguan saraf sisa, seperti kejang dan perubahan kepribadian. Sejumlah kecil pasien juga mengalami kekambuhan atau ensefalitis dengan onset tertunda.

Pengobatan

Perawatan yang tersedia saat ini bersifat suportif, dengan fokus pada penanganan gejala. WHO menetapkan virus Nipah sebagai penyakit prioritas yang membutuhkan percepatan penelitian dan pengembangan.

Pencegahan

Kemenkes belum melaporkan temuan kasus virus Nipah di Indonesia. Namun sebagai bentuk pencegahan, Prof Tjandra menyarankan untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan penularan yang ada baik di India maupun di berbagai negara tetangga.

la juga mendorong pemerintah meningkatkan koordinasi dengan WHO Asia Tenggara dan WHO Pasifik Barat, Selain itu, pengaktifan kembali ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases) dinilai krusial, mengingat Indonesia memegang peran strategis dalam deteksi dan penilaian risiko di pusat tersebut.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|