Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di Teheran, Iran, Sabtu (10/1/2026). Protes nasional dimulai pada akhir Desember di Pasar Besar Teheran sebagai tanggapan terhadap memburuknya kondisi ekonomi.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai aksi unjuk rasa di negara itu telah berubah menjadi kekerasan dan tumpah darah untuk memberi alasan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan intervensi militer di negara tersebut.
Araghchi mengatakan kepada para diplomat asing di Teheran pada Senin (12/1/2025) bahwa kekerasan meningkat selama akhir pekan tetapi situasi sekarang berada di bawah kendali penuh.
Ia mengatakan peringatan Trump tentang tindakan militer terhadap Teheran jika protes berubah menjadi kekerasan telah memotivasi 'teroris' menargetkan para demonstran dan pasukan keamanan untuk mengundang intervensi asing.
"Kami siap untuk perang tetapi juga untuk dialog," tambahnya.
Araghchi juga mengatakan Iran memiliki rekaman distribusi senjata kepada para demonstran. Pihak berwenang juga akan segera merilis pengakuan para tahanan.
"Demonstrasi tersebut dipicu dan didorong oleh unsur-unsur asing," katanya, seraya mencatat bahwa pasukan keamanan akan memburu mereka yang bertanggung jawab.
Protes yang meningkat di Iran telah memasuki pekan ketiga di tengah pemadaman internet nasional dan ancaman intervensi militer berulang dari Trump.

1 month ago
14

















































