Ketika Berangkat Sekolah Menjadi Perjuangan, Renungan Al-Ankabut Ayat 69

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi banyak anak, berangkat ke sekolah adalah rutinitas sederhana yang dilakukan hampir setiap hari. Mereka bangun pagi, mengenakan pakaian sekolah, memasukkan buku ke dalam tas, lalu berangkat menuju ruang kelas dengan harapan memperoleh pengetahuan baru.

Namun, bagi sebagian anak Palestina, perjalanan menuju sekolah tidak sesederhana itu. Ada anak-anak yang harus memulai pagi dengan pertanyaan yang semestinya tidak pernah menghantui seorang pelajar: apakah hari ini mereka dapat sampai ke sekolah dengan selamat?

UNICEF pada Kamis, 10 September 2026, melaporkan lebih dari 830 ribu anak kembali bersekolah di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, untuk memulai tahun ajaran baru. Mereka kembali ke ruang-ruang belajar di tengah kekerasan, pengungsian, pembatasan pergerakan, dan berbagai gangguan yang membuat akses menuju sekolah semakin sulit.

Angka-angka yang disampaikan UNICEF memperlihatkan beratnya keadaan tersebut. Sepanjang enam bulan pertama 2026, sedikitnya 224 insiden terkait pendidikan dilaporkan terjadi dan berdampak langsung terhadap 152 sekolah, 20.450 siswa, serta 859 tenaga pendidikan.

Ancaman terhadap anak-anak bahkan tidak berhenti ketika sekolah sedang libur. UNICEF melaporkan sepuluh anak Palestina tewas di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, selama masa liburan musim panas antara Juni hingga pekan pertama September 2026.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA dalam laporan Jumat, 11 September 2026, juga mencatat sekitar 846 ribu siswa memulai tahun ajaran 2026-2027 di seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Lebih dari 4.000 siswa yang terusir dari kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara mengalami gangguan terhadap pendidikan reguler mereka.

OCHA juga mencatat puluhan sekolah masih menghadapi ancaman yang dapat mengganggu keberlangsungan pendidikan. Sebanyak 84 sekolah menghadapi perintah penghentian pekerjaan atau ancaman pembongkaran yang berdampak terhadap hampir 13 ribu siswa.

Membaca fakta-fakta itu membuat kita sulit memandang sekolah hanya sebagai bangunan dengan ruang kelas, meja, dan papan tulis. Bagi anak-anak yang hidup di tengah konflik, sekolah dapat menjadi simbol bahwa kehidupan normal dan masa depan masih layak diperjuangkan.

Di tempat lain, seorang anak mungkin mengeluhkan pekerjaan rumah yang terlalu banyak. Di Palestina, ada anak yang bahkan harus berjuang agar bisa kembali duduk di bangku sekolah.

Di tempat lain, perjalanan menuju sekolah mungkin hanya persoalan kemacetan atau hujan. Di sana, perjalanan menuju kelas bisa bersinggungan dengan pos pemeriksaan, pembatasan jalan, kekerasan, pengungsian, atau ancaman kehilangan rumah.

Namun, mereka tetap belajar dan tetap membawa buku menuju sekolah. Mereka masih berusaha mempertahankan satu hal yang sangat penting bagi masa depan mereka: ilmu.

Di hadapan pemandangan seperti itulah sebuah ayat dalam surah Al-‘Ankabut terasa begitu dekat dengan kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Wallażīna jāhadụ fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama‘al-muḥsinīn.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-‘Ankabut ayat 69).

Ayat ini berbicara tentang kesungguhan manusia dalam menempuh jalan Allah. Ia menggambarkan orang-orang yang tidak hanya berharap menemukan jalan kebaikan, tetapi juga mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan kemampuannya untuk mencarinya.

Di dalam ayat tersebut terdapat sebuah janji yang luar biasa kuat. Allah berfirman, “lanahdiyannahum subulanā”, yang bermakna bahwa Dia benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan-Nya.

Allah tidak mengatakan bahwa jalan tersebut selalu mudah untuk dilewati. Allah juga tidak menjanjikan bahwa semua jalan kehidupan akan terlihat jelas sejak langkah pertama.

Yang Allah janjikan adalah petunjuk bagi manusia yang mau bersungguh-sungguh berjalan menuju-Nya. Kesungguhan itu kemudian dipertemukan dengan hidayah, pertolongan, dan jalan-jalan yang sebelumnya mungkin tidak pernah terlihat.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|