Sembilan Tahun Menunggu Jalan Pulang, Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sembilan tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk menunggu sebuah jalan pulang. Seorang anak yang meninggalkan rumah ketika berusia enam tahun kini telah tumbuh menjadi remaja, sementara rumah yang dahulu dikenalnya mungkin hanya tersisa sebagai cerita yang disampaikan orang tuanya.

Itulah kenyataan yang masih dihadapi banyak Muslim Rohingya. Pada Selasa, 25 Agustus 2026, puluhan ribu pengungsi Rohingya berkumpul di kamp-kamp Cox’s Bazar, Bangladesh, memperingati sembilan tahun eksodus besar dari Myanmar sekaligus kembali menyuarakan keinginan untuk pulang dengan aman ke negeri asal mereka.

Associated Press pada Selasa, 25 Agustus 2026, melaporkan lebih dari satu juta Muslim Rohingya berada di Bangladesh setelah gelombang kekerasan di Myanmar memaksa mereka meninggalkan tanah kelahiran. Upaya pemulangan telah beberapa kali dibicarakan, tetapi para pengungsi menolak kembali selama keselamatan dan hak-hak mereka di Negara Bagian Rakhine belum dapat dijamin.

Keinginan untuk kembali itu tetap hidup meskipun perjalanan mereka telah berlangsung hampir satu dekade. Mereka tidak sekadar membutuhkan sebuah kendaraan yang membawa mereka melintasi perbatasan, tetapi membutuhkan jaminan bahwa kepulangan tidak berarti kembali memasuki ketakutan yang pernah membuat mereka melarikan diri.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin, 24 Agustus 2026, bahkan mengingatkan bahwa keadaan Rohingya di Myanmar, Bangladesh, dan berbagai negara kawasan masih diliputi ketidakamanan yang semakin dalam. Ruang perlindungan menyempit, peluang menemukan solusi permanen semakin terbatas, sementara pemotongan dana kemanusiaan memperberat kehidupan mereka.

Di Myanmar sendiri, Rohingya masih terjebak dalam konflik dan pengungsian. PBB mencatat mereka menghadapi berbagai pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan pergerakan, hambatan akses kemanusiaan, penangkapan sewenang-wenang, perekrutan paksa, dan ancaman kekerasan lainnya.

Lalu, sampai kapan seseorang mampu berharap?

Pertanyaan itu mungkin muncul ketika penantian tidak lagi dihitung dalam hari atau bulan, tetapi dalam tahun. Ada saat ketika kehilangan yang terlalu panjang membuat manusia mulai bertanya apakah jalan pulang benar-benar masih ada.

Al-Qur’an menghadirkan sebuah kisah tentang penantian panjang semacam itu. Nabi Ya’qub pernah kehilangan Yusuf, anak yang sangat dicintainya, tetapi tahun-tahun kehilangan tidak membuatnya berhenti percaya kepada rahmat Allah.

Pada suatu saat, ketika keadaan tampak semakin rumit dan Yusuf belum juga ditemukan, Nabi Ya’qub berkata kepada anak-anaknya:

يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

Yā baniyyaż-habụ fa taḥassasụ miy yụsufa wa akhīhi wa lā taiasụ mir rauḥillāh, innahụ lā yaiasu mir rauḥillāhi illal-qaumul-kāfirụn.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf ayat 87).

Ada sesuatu yang sangat kuat dalam susunan pesan Nabi Ya’qub tersebut. Ia tidak mengatakan kepada anak-anaknya agar hanya duduk dan menunggu mukjizat, tetapi memerintahkan mereka pergi dan mencari.

“Pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya.”

Harapan dalam ayat ini ternyata memiliki kaki untuk berjalan. Ia bukan sekadar perasaan di dalam hati, melainkan kekuatan yang membuat manusia kembali bergerak ketika keadaan berkali-kali memintanya menyerah.

Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah Nabi Ya’qub tersebut bermakna agar anak-anaknya bersemangat dan bersungguh-sungguh mencari Yusuf dan saudaranya. Menurut As-Sa’di, optimisme akan mendorong seorang hamba untuk berusaha dan tekun secara serius dalam mencapai sesuatu yang diharapkannya.

Sebaliknya, keputusasaan mempunyai akibat yang sangat berbeda. As-Sa’di menjelaskan bahwa putus asa membuat manusia merasa berat dan akhirnya cenderung bermalas-malasan dalam mengejar sesuatu yang sebenarnya masih mungkin diperjuangkan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|