
BPBD Distribusi air bersih kepada warga terdampak kekeringan. - Antara/HO-Dokumen Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bantul pada musim kemarau 2026 telah mendorong penyaluran bantuan air bersih dalam jumlah besar. Hingga 10 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat sebanyak 706.500 liter air bersih atau setara 140 tangki telah didistribusikan kepada warga terdampak di enam kapanewon. Kondisi ini menjadi perhatian DPRD Bantul karena persoalan krisis air bersih masih berulang hampir setiap tahun saat musim kemarau.
DPRD Bantul Soroti Persoalan Kekeringan yang Berulang
Krisis air bersih yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Bantul menjadi salah satu perhatian DPRD Kabupaten Bantul. Persoalan yang muncul hampir setiap musim kemarau tersebut dinilai perlu mendapatkan evaluasi menyeluruh agar dampaknya dapat ditekan pada tahun-tahun mendatang.
Ketua Komisi A DPRD Bantul, Jumakir, mengatakan kekurangan air bersih masih menjadi tantangan yang dihadapi sejumlah wilayah ketika musim kemarau tiba.
"Bantul ini setiap tahunnya saat musim kemarau masih banyak titik-titik yang kekurangan air bersih. Jadi ini juga menjadi bagian evaluasi. Semester pertama sudah berjalan, proses enam bulan ke depan ini yang akan kami bahas lagi baik dari segi anggaran dan juga program," kata Jumakir, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, pembahasan lanjutan diperlukan untuk menilai efektivitas program penanganan yang telah berjalan sekaligus menyusun langkah yang lebih tepat dalam menghadapi musim kemarau berikutnya.
"Kami dorong ada aksi gotong royong dari berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah agar persoalan kekeringan ini minimal bisa dikurangi dampaknya ke depan," ujarnya.
BPBD Salurkan 706.500 Liter Air Bersih
Sementara itu, BPBD Bantul terus melakukan distribusi bantuan air bersih sejak status siaga kekeringan diberlakukan pada 20 Juni 2026. Hingga 10 Agustus 2026, total bantuan yang telah disalurkan mencapai 706.500 liter air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menjelaskan jumlah tersebut berasal dari berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan kekeringan.
Sebanyak 140 tangki air bersih telah didistribusikan dengan rincian 29 tangki dari BPBD Bantul, 27 tangki dari PMI, 13 tangki dari Tagana, tiga tangki dari BBWSSO, dan 68 tangki berasal dari bantuan donasi.
Menurut Antoni, dampak kekeringan saat ini telah menjangkau wilayah yang cukup luas.
"Dampak kekeringan sudah meluas dan dirasakan di enam kapanewon, 11 kalurahan, dan 16 dusun. Total penerima manfaat bantuan air besok mencapai 1.003 kepala keluarga atau 4.623 jiwa," ujarnya.
Pundong Jadi Wilayah dengan Distribusi Terbesar
Berdasarkan data BPBD Bantul, distribusi bantuan air bersih terbesar dilakukan di Kapanewon Pundong. Wilayah ini menerima 215.000 liter air bersih atau setara 42 tangki.
Selanjutnya, bantuan disalurkan ke sejumlah wilayah lain yang juga mengalami dampak kekeringan.
Rinciannya meliputi:
- Kapanewon Dlingo: 169.500 liter atau 34 tangki
- Kapanewon Imogiri: 140.000 liter atau 28 tangki
- Kapanewon Pajangan: 132.000 liter atau 26 tangki
- Kapanewon Piyungan: 45.000 liter atau sembilan tangki
- Kapanewon Sedayu: 5.000 liter atau satu tangki
Data tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih masih cukup tinggi di sejumlah kawasan perbukitan dan wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
BPBD Siapkan Respons Tambahan Jika Dibutuhkan
BPBD Bantul memastikan pemantauan kondisi kekeringan terus dilakukan bersama relawan dan instansi terkait. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat segera ditangani apabila muncul wilayah baru yang mengalami krisis air.
Menurut Antoni, distribusi bantuan tambahan akan diberikan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan dan permohonan dari wilayah terdampak.
"BPBD bersama unsur relawan dan instansi terkait terus memantau dinamika di lapangan. Kami siap merespons permohonan dropping air bersih tambahan dari wilayah-wilayah perbukitan yang rawan mengalami krisis air," pungkas dia.
Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Bantul masih terus dipantau seiring berlanjutnya musim kemarau. Penyaluran bantuan air bersih dari BPBD, relawan, organisasi kemanusiaan, serta donatur menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak krisis air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































