Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI - StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA—Gelombang kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mulai menghantam Australia dengan ratusan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan mengalami kekosongan pasokan. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas distribusi energi global, sehingga berdampak langsung pada ketahanan stok di Negeri Kanguru tersebut.
Menteri Energi Australia, Chris Bowen, mengungkapkan fakta tersebut di hadapan parlemen pada Rabu (25/3/2026) dengan menyebutkan sedikitnya 600 titik SPBU di seluruh penjuru negeri telah kehabisan minimal satu jenis bahan bakar. Kelangkaan ini terpantau paling parah terjadi di wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi, yakni negara bagian New South Wales dan Victoria, yang mencakup sekitar 10 persen dari total populasi SPBU nasional.
Sebelumnya, dalam sebuah wawancara bersama Sky News, Bowen sempat mengeklaim bahwa lonjakan permintaan bahan bakar di Australia lebih disebabkan oleh aksi beli panik (panic buying) oleh warga. Masyarakat disinyalir berbondong-bondong memenuhi tangki kendaraan mereka untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga, meski saat itu pemerintah berkilah bahwa belum ada masalah mendasar pada sisi ketersediaan pasokan.
Guna merespons situasi yang kian mendesak, Pemerintah Australia pada Selasa kemarin mengumumkan kebijakan untuk menurunkan standar kualitas diesel selama enam bulan ke depan. Langkah darurat ini diambil demi memperkuat cadangan domestik sekaligus membuka peluang bagi pemasok alternatif dari Amerika Serikat (AS), Kanada, hingga negara-negara Eropa untuk masuk ke pasar Australia.
Hingga pekan lalu, data menunjukkan bahwa Australia masih mengantongi cadangan bensin untuk 38 hari dan diesel untuk 30 hari setelah stok terkuras akibat lonjakan konsumsi yang tidak terduga. Kondisi kian pelik lantaran jalur pelayaran vital di Selat Hormuz terganggu secara signifikan sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran pada akhir bulan lalu.
Gangguan di titik nadi distribusi minyak dunia tersebut telah memangkas hingga seperlima dari total pasokan global, yang secara otomatis memperketat ketersediaan bahan bakar di pasar internasional. Hal ini juga memicu lonjakan harga yang tajam di tingkat global, memberikan tekanan ekonomi tambahan bagi negara-negara pengimpor energi seperti Australia.
Ketergantungan Australia terhadap pasar luar negeri memang sangat tinggi mengingat kapasitas pengolahan minyak di dalam negeri yang sangat terbatas. Saat ini, Australia tercatat mengimpor lebih dari dua pertiga kebutuhan bensin, solar, hingga bahan bakar jet, di mana Korea Selatan sebagai salah satu pemasok utama sudah mulai memberikan sinyal untuk membatasi ekspor mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































