Lebaran Betawi, Hantaran Tradisi Penuh Harmoni

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di bawah langit Jakarta yang perlahan memudar dari terik siang, Lapangan Banteng berubah menjadi ruang pertemuan yang tak sekadar meriah, tetapi juga sarat makna.

Riuh tawa, denting musik tradisional, dan aroma masakan Betawi yang menguar dari rantang-rantang besar seolah memanggil ingatan kolektif: tentang rumah, tentang orang tua, tentang tradisi yang tak pernah benar-benar pergi.

Di tengah suasana itu, prosesi hantaran digelar. Satu per satu perwakilan wilayah maju, membawa rantang berisi hidangan khas daerahnya. Bukan sekadar makanan, tetapi simbol tentang bakti, tentang hormat, tentang cara orang Betawi merawat hubungan dengan penuh rasa.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyebut tradisi ini sebagai bentuk penghormatan yang hidup di tengah masyarakat. Hantaran, katanya, bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari “ibadah sosial” yang mengajarkan nilai memberi dan menghargai.

Dari Jakarta Pusat, nasi kebuli hadir sebagai pembuka. Aromanya yang kuat seakan langsung mencuri perhatian. Pembawa acara pun berseloroh, ingin ikut mencicipi, memancing gelak tawa yang hangat, tawa yang terasa akrab, seperti di halaman rumah sendiri.

Jakarta Utara menyusul dengan ragam kuliner pesisir: bebek oblok, biji ketapang, kembang goyang, hingga dodol Betawi. Setiap hidangan seperti membawa cerita, tentang laut, tentang keluarga, tentang dapur yang selalu ramai menjelang hari besar.

Dari Jakarta Barat, pindang bandeng dan gabus pucung tampil dengan cita rasa yang lebih dalam, seolah menyimpan jejak sejarah panjang masyarakat Betawi. Sementara Jakarta Selatan menghadirkan perpaduan yang menarik: ayam kuning, pecak gurame, hingga nasi goreng mengkudu, yang terasa akrab sekaligus baru.

Jakarta Timur tak ketinggalan. Nasi uduk Mak Lengket yang legendaris hadir bersama roti buaya, simbol kesetiaan yang telah lama hidup dalam budaya Betawi. Di balik sajian itu, tersimpan pesan sederhana namun kuat: bahwa hubungan yang dijaga dengan tulus akan selalu menemukan jalannya.

Dari kejauhan, perwakilan Kepulauan Seribu datang membawa aroma laut. Ikan bakar sambal beranyut dan udang penko menjadi bukti bahwa tradisi tak mengenal jarak. Mereka menempuh perjalanan sejak dini hari, demi satu hal: menjaga warisan yang diwariskan turun-temurun.

Prosesi itu kemudian ditutup dengan penyerahan mushaf Al-Qur’an Betawi, sebuah penanda bahwa di balik budaya yang hidup, ada nilai spiritual yang tetap dijaga. Tradisi, dalam hal ini, bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang apa yang diyakini.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|