REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Genera-Z Berbakti 2026 hadir dengan format penjurian baru. Para peserta umumnya sudah bersiap mengikuti kontestasi, dengan mengacu pada tayangan program edisi 2025.
Perubahan format penjurian, membuat kedelapan finalis harus menyusun strategi terbaik agar dapat tampil maksimal dan meyakinkan panelis, bahwa ide yang ditawarkan untuk desa wisata binaan tujuan, dapat terlaksana dengan baik dan berdampak optimal.
Finalis Genera-Z Berbakti 2026 harus melewati tiga tahapan sangat ketat agar dapat melaju dan memenangkan kesempatan mengimplementasikan program di lokasi tujuan. Tahapan tersebut mereka jalani di hadapan tiga panelis yakni Nicholas Saputra yang merupakan Duta Bakti BCA, Cinta Laura Kiehl yang dikenal sebagai entertainer dan sociopreneur, serta Tri Mumpuni yang merupakan sosok ilmuwan dan wirausaha sosial.
Tahap pertama dalam program call for proposal Bakti BCA ini yaitu Idea Pitch. Pada babak ini, tiap finalis diberi waktu 10 menit untuk mempresentasikan rancangan program terbaiknya. Tahap selanjutnya adalah Think Tank, dimana finalis diberi waktu 60 detik untuk menjawab pertanyaan panelis. Jika panelis memberikan respons atas jawaban, finalis dapat memberikan tanggapan maksimal 30 detik.
Babak terakhir adalah Head to Head, di mana para finalis dapat saling adu argumen, memberikan pertanyaan, menjawab, dan mempertahankan ide masing-masing sekaligus menguji kekuatan program mereka.
Namun, berbeda dengan tahun lalu, kali ini Genera-Z Berbakti menerapkan satu peraturan baru. Peraturannya, dalam menempuh setiap tahap (Idea Pitch, Think Tank, dan Head to Head) finalis hanya boleh diwakilkan satu orang berbeda. Itu berarti, setiap individu dalam tim punya kesempatan sama untuk tampil di hadapan panelis dan lawannya.
Ketentuan ini membuat banyak finalis terkejut, salah satunya yaitu Tessa dari tim DESA HIDUP perwakilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Awalnya perasaan saya tidak karuan dan benar-benar gugup. Namun, saya berusaha untuk bisa tersenyum. Momen yang paling membanggakan adalah ketika saya bisa berbicara dan menjawab pertanyaan panelis, lalu bisa mengintegrasikan jawaban-jawaban yang menurut saya bagus,” kata Tessa.
Testimoni serupa disampaikan tim Laskar Selasik dari Universitas Gadjah Mada. “Jujur dari awal sempat agak gugup dan bahkan sempat berpikir untuk bertanya apakah mungkin saya digantikan saja. Saya kemudian sudah tidak berpikir benar atau salah, dan yang terpenting adalah menceritakan isi presentasi,” ujar Faruq, salah satu anggota tim tersebut.
Di balik ketegangan dan adrenalin yang dirasakan finalis, ada tujuan besar yang ingin diwujudkan lewat kompetisi ini. Bakti BCA berharap Genera-Z Berbakti 2026 dapat membantu mahasiswa menelurkan ide inovatif dan siap diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di tiap desa tujuan.
“Kami yakin kedelapan finalis terpilih memiliki potensi luar biasa. Sekarang, waktunya mereka membuktikannya. Kami optimistis format baru babak final Genera-Z Berbakti 2026 dapat membantu para finalis mengeluarkan potensi besar di dirinya masing-masing, yang kemudian bisa dikembangkan untuk menerapkan ide-idenya di lokasi kegiatan nanti,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
Empat dari delapan finalis akan mendapatkan kesempatan mengimplementasikan gagasannya di empat desa wisata. Keempat desa wisata tersebut adalah Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung; Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur; Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo; dan Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.
“Saran saya untuk para kampus yang menjadi finalis adalah untuk membuat proposal mereka tetap sederhana. Sebab, lebih baik kita memecahkan masalah secara bertahap dan perlahan daripada berusaha melakukan segalanya dalam waktu yang bersamaan, tetapi menghasilkan sistem yang tidak realistis dan berkelanjutan,” kata Entertainer & Sociopreneur Cinta Laura Kiehl.

4 hours ago
3











































