Membaca Ayat-ayat Ekonomi dalam Puncak Haji

4 hours ago 3

Oleh: Oman Sukmana, Deputi Direktur OJK

REPUBLIKA.CO.ID, Di bawah langit Makkah yang melengkung agung, ribuan jiwa bergerak dalam ritme yang sama. Mereka datang menanggalkan segala atribut dunia. Pangkat yang mentereng, takhta yang gemerlap dan gelar gelar yang menjadi jubah kebanggaan berganti dengan selembar kain putih tanpa jahitan.

Banyak yang memandang hajatan suci ini hanya sebagai puncak perjalanan spiritual yang murni ukhrawi. Padahal, jika diselami lebih dalam, ibadah haji sesungguhnya adalah sebuah manifestasi agung tentang bagaimana tatanan kehidupan, termasuk urusan materi dan ekonomi manusia, seharusnya dijalankan di atas bumi.

Thawaf Ifadhah dan Sirkulasi Berkelanjutan

Setelah melewati badai wukuf di Arafah, dinginnya malam di Muzdalifah serta ujian kesabaran di Mina, langkah kaki berlanjut ke sudut Hajar Aswad. Thawaf Ifadhah adalah gelombang manusia yang berputar melawan arah jarum jam, menyelaraskan gerak mikro kosmos manusia dengan makro kosmos alam semesta.

Jutaan manusia mengalir laksana air, tak ada yang boleh berhenti seketika, tak ada yang boleh memotong jalur secara paksa. Semua bergerak, berputar, dan mengalir mengitari satu poros yang sama: Baitullah.

Di dalam pusaran yang hikmat dan syahdu tersebut, tersimpan sebuah hukum ekonomi yang paling mendasar tentang sirkulasi dan distribusi.

Kekayaan dalam Islam laksana jemaah yang sedang berthawaf. Ia harus terus bergerak, mengalir, dan berpindah tangan dari yang berkecukupan kepada yang membutuhkan. Ketika harta disuntikkan kepada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk zakat, infak, sedekah, dan investasi yang berkeadilan, maka ia akan berputar dan menciptakan sendi-sendi kehidupan.

Sebaliknya, jika kekayaan itu mandek, menumpuk atau dimonopoli oleh segelintir orang, maka ia ibarat seorang jemaah yang tiba-tiba berhenti di tengah jalur thawaf. Ia akan menciptakan sumbatan, kekacauan, dan merusak ekosistem di sekitarnya.

Thawaf Ifadhah mengajarkan bahwa kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa lancar dan adilnya aliran itu menyentuh lapisan masyarakat hingga menciptakan multiflier effect yang menghidupkan sendi sendi ekonomi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|