Mencari Lailatul Qadar di Tengah Kegelisahan Zaman

2 hours ago 3

Oleh : KH. Ahmad Jamil, Ph.D, Pimpinan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an / Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah dunia yang semakin cepat, bising, dan penuh ketidakpastian, manusia modern sering kehilangan satu hal yang paling ia butuhkan yaitu ketenangan jiwa. Ramadhan datang membawa jawaban melalui satu malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan namanya Lailatul Qadar.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana batin yang berbeda. Ketika sebagian besar dunia beristirahat dari hiruk-pikuk aktivitas, masjid-masjid justru kembali hidup. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca lebih khusyuk, doa-doa dipanjatkan lebih sungguh-sungguh, dan hati manusia perlahan kembali kepada Tuhannya. Dalam keheningan malam itu, seorang hamba seolah menemukan kembali dirinya.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۝ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ۝ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah engkau apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.” (QS. al-Qadr: 1–5)

Ayat ini menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an, malam rahmat, malam malaikat turun, dan malam yang dipenuhi kedamaian hingga fajar.

Dalam Maqayis al-Lughah, Ibn Faris menjelaskan bahwa kata qadr mengandung makna ukuran, ketetapan, kemuliaan, dan kekuasaan. Karena itu, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang mulia, tetapi juga malam yang berkaitan dengan penetapan berbagai urusan kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. ad-Dukhān: 4)

Dalam Jami‘ al-Bayan, Imam al-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya pengaturan ilahi terhadap berbagai urusan makhluk dengan hikmah-Nya. Sementara Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓhim menjelaskan bahwa malam ini disebut Lailatul Qadar karena kemuliaannya yang sangat besar dan karena pada malam itu Allah menurunkan kitab suci yang menjadi petunjuk bagi manusia.

Malam yang Nilainya Melampaui Umur Manusia

Al-Qur’an menyebut Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan, yakni lebih dari delapan puluh tiga tahun. Ini bukan sekadar angka, tetapi isyarat tentang keluasan rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Fakhruddin al-Razi dalam Mafatiḥ al-Ghayb menjelaskan bahwa keutamaan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW yang usianya lebih pendek dibanding umat-umat terdahulu. Karena itulah Allah menghadirkan satu malam yang nilainya melampaui puluhan tahun ibadah.

Makna ini diperkuat oleh sabda Nabi SAW:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Usia umatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan hanya sedikit di antara mereka yang melampaui itu.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Mājah)

Hadis ini menunjukkan bahwa usia umat Nabi SAW relatif terbatas. Dalam Tuḥfat al-Aḥwadhi, al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Allah memberi umat ini berbagai keutamaan ibadah sebagai bentuk rahmat-Nya. Salah satu yang terbesar ialah Lailatul Qadar. Penjelasan senada juga dikemukakan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fatḥ al-Bari.

Sebagian mufassir juga menukil riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah menceritakan seorang lelaki dari Bani Israil yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan. Para sahabat takjub mendengar itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. al-Qadr: 3)

Riwayat ini disebut oleh Ibn Kathir, al-Qurthubi, dan al-Suyuthi sebagai gambaran betapa Allah memuliakan umat Nabi Muhammad SAW meskipun umur mereka tidak sepanjang umat-umat terdahulu.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|