Meifa Abiyyah
Gaya Hidup | 2026-06-24 16:57:05
Laptop dan smartphone. Foto : milik pribadi
Apa hal pertama yang Anda lakukan sesaat setelah membuka mata di pagi hari? Kebanyakan orang saat ini jawabannya bukan lagi berdoa ataupun meneguk segelas air, melainkan meraih dan menyalakan ponsel mereka. Tindakan yang pada awalnya bertujuan untuk mengecek informasi sekilas, namun pada realitanya justru menit demi menit hingga jam demi jam berlalu membiarkan diri kita tenggelam dalam algoritma yang diberikan oleh platform media sosial.
Menghabiskan waktu berjam – jam di media sosial untuk mengonsumsi berita – berita negatif (doomscrolling) atau sibuk mengintip trend terbaru karena takut tertinggal (FOMO) kini telah menjadi kebiasaan kolektif yang sulit diputus. Fenomena ini mengisyarakatkan terjadinya pergeseran mendasar dalam cara masyarakat modern berinteraksi, di mana ritual harian ini tanpa sadar mendikte suasana hati kita sepanjang hari.
Berdasarkan pernyataan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan dan Kebudayaan (PMK) pada 17/6/2025, bahwa rata - rata screen time orang Indonesia mencapai lebih dari 7,5 jam per harinya. Dilengkapi dengan laporan terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang berjudul "Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2026". Disebutkan bahwa Tiktok merupakan media sosial yang paling banyak diakses oleh penduduk Indonesia. Diikuti oleh aplikasi Meta, yakni Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Walau pada dasarnya hal ini terjadi karena adanya dorongan emosional, namun fenomena ini dapat dilihat dari 'kacamata' Teori Tindakan Sosial Max Weber. Dalam teori ini, tindakan sosial dibagi menjadi 4 (empat) tipe yang berbeda dilihat dari alasan suatu tindakan dilakukan.
Pertama, tindakan rasional instrumental (zweckrational) yang berorientasi pada pada tujuan yang diperhitungkan secara sadar, FOMO dan doomscrolling dapat dikategorikan ke dalam tipe ini apabila dilakukan dengan tujuan yang jelas, misalnya dengan alasan agar diterima oleh kelompok sosialnya atau demi mendapatkan koneksi sosial.
Kedua, tindakan rasional nilai (wertrational) yang dilakukan berdasarkan keyakinan atau nilai tertentu yang dianggap penting, misalnya seseorang menjadi FOMO demi kebutuhan untuk terlihat eksis di kelompok sosial karena nilai moral pribadinya atau seseorang melakukan doomscrolling karena keinginan menjadi warga yang bertanggung jawab dan terinformasi akan isu dunia.
Ketiga, tindakan afektif yang didasari oleh perasaan atau emosi murni tanpa perencanaan, FOMO adalah bentuk dorongan emosi kuat berupa kecemasan akan dikucilkan yang kemudian, mendorong terjadinya doomscrolling sebagai bentuk respons takut, panik, dan penasaran, sehingga terus menggulir layar secara kompulsif.
Keempat, tindakan tradisional yang terjadi secara berulang karena telah menjadi kebiasaan tanpa refleksi, awalnya mungkin rasional atau afektif, namun seiring berjalannya waktu FOMO dan doomscrolling menjadi kebiasaan refleks.
Melalui pendekatan pemahaman (Verstehen) fenomena FOMO dan doomscrolling dapat dipahami sebagai salah satu dampak dari rasionalisasi masyarakat modern. Media sosial diciptakan oleh perusahaan teknologi melalui algoritma komputasi yang efisien dan terprediksi agar pengguna terus terpaku. Akibatnya, alih - alih menggunakan teknologi untuk tujuan rasional, individu justru terjebak dalam sistem yang mengeksploitasi emosi mereka.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3













































