Membuka pintu rezeki. Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penciptaan dan rezeki disebut secara bersamaan. Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari menjelaskan hal tersebut dalam kitab At Tanwir.
Allah berfirman dalam Surat Ar Rum ayat 40:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ
Allâhulladzî khalaqakum tsumma razaqakum tsumma yumîtukum tsumma yuḫyîkum
Allahlah yang menciptakanmu, kemudian menganugerahkanmu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).
Menurut Syekh Ibnu Athaillah, ayat tersebut menyebutkan bahwa penciptaan dan pemberian rezeki itu beriringan atau setara. Dalam artian jika engkau menerima bahwa Allah adalah Sang Pencipta, engkau tidak akan mengaku-aku dapat mencipta. Begitu juga, jika engkau menerima bahwa Allah adalah Sang Pemberi Rezeki, maka janganlah engkau mengklaim bahwa engkau dapat memberi rezeki.
Sebagaimana Allah Esa dalam penciptaan, Dia juga Esa dalam urusan pemberian rezeki. Penciptaan dan pemberian rezeki disebut secara bersamaan sebagai hujjah (argumentasi) dan larangan bagi hamba-Nya agar tidak melihat bahwa rezeki dan kebajikan yang ia terima itu berasal dari makhluk atau selainNya. Sebagaimana Allah mencipta tanpa perantara maupun sebab, Dia juga memberi rezeki tanpa bergantung perantara atau sebab.
Kedua, firman ALlah "Dzat yang menciptakanmu dan memberimu rezeki," menjelaskan bahwa rezeki telah ditetapkan dan disahkan pada zaman azali. Ketetapan Allah (Qadha) tidak diperbaharui setiap saat rezeki diberikan, pada suatu waktu, juga tidak mengalami pergantian sepanjang waktu. Akan tetapi yang diperbarui adalah kemunculan rezeki, bukan ketetapannya.

5 hours ago
2











































