Mengurai Eceng Gondok Waduk Saguling Jadi Jamur Merang yang Bernilai Ekonomi

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyebutkan, eceng gondok yang tumbuh subur di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat bukan sekadar gulma atau tanaman pengganggu.

Namun, eceng gondok tersebut juga menyimpan nilai ekonomi potensial yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat melalui program pengolahan khusus.

Inovasi mengubah eceng gondok menjadi produk yang bernilai ekonomi menghasilkan pundi-pundi rupiah itupun sedang digalakan PLN Indonesia Power (PLN IP) UBP Saguling bersama Pemkab Bandung Barat dan Dansektor 4 Citarum Harum.

Langkah mengubah masalah lingkungan menjadi solusi bernilai ekonomi itu dimulai dengan pelatihan budidaya jamur merang berbahan eceng gondok bagi warga di Desa Karang Tanjung, Kecamatan Cililin.

"Tentunya kami mendukung penuh dengan adanya inovasi ini. Eceng gondok bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi juga menyimpan nilai ekonomi potensial yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat," kata Jeje saat dikonfirmasi, Selasa (28/7/2026).

Jeje mengatakan, eceng gondok yang menghampar di Waduk Saguling ini tentunya menganggu sistem perairan dan menimbulkan masalah bagi lingkungan. Sehingga Pemkab Bandung Barat bersama IP UBP Saguling, TNI dan pihak lainnya secara bertahap terus melakukan pembersihan.

"Kita maksimalkan Desember sudah beres karena memang titiknya cukup banyak dan ini membutuhkan alat berat. Eceng gondok ini sudah sering dikeluhkan warga karena sudah sangat mengganggu," kata Jeje.

Namun tentunya dengan adanya inovasi yang sedang digalakan sekarang ini, eceng gondok yang diangkat itu tidak dibuang begitu saja. Tapi dimanfaatkan dan diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Saguling, Doni Bakar mengatakan, dalam pelatihan itu, warga diperkenalkan secara langsung dengan tahapan budidaya jamur merang menggunakan eceng gondok sebagai salah satu bahan media tanam.

Peserta mendapatkan pengetahuan mulai dari pengolahan bahan, pembuatan media tanam, penanaman bibit, pemeliharaan hingga proses panen.

Doni menyebutkan, pemanfaatan eceng gondok menjadi media tanam jamur merupakan bagian dari upaya perusahaan mendorong konsep ekonomi sirkular.

Dengan pendekatan tersebut, eceng gondok yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan setelah diangkat dari perairan kini dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang produktif dan memiliki peluang ekonomi.

"Inovasi pemanfaatan eceng gondok menjadi media tanam maupun produk lainnya merupakan bagian dari komitmen kami dalam mewujudkan ekonomi sirkular, memberdayakan masyarakat, serta menjaga kelestarian Waduk Saguling secara berkelanjutan," ujar dia.

Sehingga dengan adanya pelatihan ini tentunya diharapkan tidak sekadar menjadi solusi untuk mengurangi volume eceng gondok yang diangkat dari Waduk Saguling demi menjaga kelancaran operasional pembangkit, juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

"Pemanfaatan eceng gondok menjadi media tanam maupun produk lainnya merupakan langkah yang sangat positif. Eceng gondok tidak hanya diangkat dari waduk untuk mengurangi penyebarannya, juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Dansektor Citarum Harum Sektor 4, Kolonel Arh. Tri Adrijanto Santoso, mengatakan pemanfaatan eceng gondok sebagai media tanam maupun produk lainnya merupakan langkah positif yang dapat memperkuat upaya penanganan tanaman air tersebut di Waduk Saguling.

"Saya sangat mendukung. Menurut saya, pemanfaatan eceng gondok menjadi media tanam maupun produk lainnya merupakan langkah yang sangat positif," ujar Tri.

Menurutnya, inisiatif yang didukung PLN Indonesia Power UBP Saguling tersebut relevan dengan kegiatan pembersihan eceng gondok yang saat ini dilakukan.

Dengan adanya pemanfaatan tersebut, eceng gondok yang telah diangkat dari waduk tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memberikan nilai tambah sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"Eceng gondok tidak hanya diangkat dari waduk untuk mengurangi penyebarannya, tetapi juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat," katanya.

Tri menilai pendekatan tersebut menjadi solusi yang lebih berkelanjutan karena menggabungkan penanganan persoalan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

"Pendekatan ini menjadi solusi yang lebih berkelanjutan karena mampu mengintegrasikan upaya pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat," ujarnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|