
Oleh : Royyan Ramdhani Djayusman, Dosen Ekonomi Islam Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sempat viral ajakan ‘Patungan Beli Hutan’ saat banjir bandang melanda sebagian wilayah Sumatera. Pertanyaannya, apakah ada yang mau ikut patungan? Penelitian yang dilakukan oleh Royyan R. Djayusman, Rahma Yudi Astuti, dan Lutfy Ditya Cahyanti (tim dosen Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo), serta Provitas Wijayanti (Universitas Islam Sultan Agung, Semarang), memberikan penjelasan mendalam terkait potensi filantropi ‘hijau’ yang pro-lingkungan.
Banjir bandang yang melanda Sumatera pada akhir 2025 adalah tragedi yang mengguncang nurani bangsa. Hujan ekstrem akibat siklon tropis memicu luapan sungai, menghanyutkan rumah, dan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Lebih dari seribu jiwa meninggal dunia, jutaan lainnya mengungsi, sementara kerugian ekonomi ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah. Di balik duka itu, kita diingatkan bahwa bencana bukan sekadar soal cuaca, melainkan dampak nyata dari kerusakan lingkungan yang terus dibiarkan.
Penelitian terbaru dari Universitas Darussalam Gontor dan Universitas Islam Sultan Agung menawarkan sebuah alternatif dan harapan. Melibatkan 1.138 responden Muslim di 20 kota/kabupaten mulai dari Aceh, Padang, hingga Papua, hasil survei menunjukkan bahwa sikap religius dan modal sosial berpengaruh besar terhadap perilaku filantropi lingkungan.
Seseorang yang aktif dalam kegiatan keagamaan memiliki peluang 12,4 persen lebih tinggi untuk berdonasi pada proyek pro-lingkungan. Selain itu, tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi meningkatkan minat partisipasi dalam filantropi lingkungan sebesar 31,1 persen.
Temuan ini merupakan panggilan spiritual bagi komunitas Muslim Indonesia. Sebagai bangsa paling dermawan di dunia versi World Giving Index dari Charities Aid Foundation, Indonesia memiliki potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) mencapai Rp327 triliun per tahun.
Sayangnya, dana besar ini masih jarang diarahkan untuk rehabilitasi hutan, pengelolaan daerah aliran sungai, atau program mitigasi bencana. Padahal, banjir Sumatera membuktikan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menyelamatkan nyawa manusia.
Religiusitas dalam Islam menekankan amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Dari sisi modal sosial, jaringan kepercayaan dan solidaritas komunitas merupakan energi kolektif yang sangat potensial untuk digerakkan. Jika keduanya dipadukan, filantropi Islam dapat menjadi motor transisi menuju ekonomi hijau. Dengan menguatkan motivasi agama dan kepercayaan publik, pengumpulan dana untuk program pelestarian alam akan lebih mudah terwujud.
Pasca-banjir Sumatera, kita tidak boleh kembali ke pola lama: hanya menunggu bantuan pemerintah lalu melupakan akar masalahnya. Momentum ini harus digunakan untuk memperluas cakupan filantropi. ZISWAF tidak boleh hanya berhenti pada sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga harus menyentuh upaya menjaga hutan, membersihkan sungai, dan menyelamatkan bumi.
Bayangkan jika sebagian kecil dari potensi Rp327 triliun dana ZISWAF dialokasikan untuk konservasi hutan di Sumatera. Bayangkan jika masyarakat diarahkan untuk membangun desa tangguh bencana, di mana religiusitas tidak berhenti pada ibadah ritual, melainkan mewujud dalam aksi nyata menjaga alam. Dengan begitu, tragedi seperti banjir 2025 dapat dicegah atau setidaknya diminimalisasi dampaknya.
Tulisan ini mengajak lembaga zakat, ormas Islam, dan masyarakat luas untuk menjadikan filantropi hijau sebagai agenda bersama. Banjir Sumatera adalah tanda peringatan dini (early warning sign). Jika kita gagal merespons, tragedi serupa akan terus berulang dengan dampak yang lebih besar. Namun, jika kita berani mengoptimalkan nilai spiritual dan sosial untuk gerakan lingkungan, hal tersebut akan menjadi amal jariyah demi menyelamatkan sesama dan generasi mendatang.
Saatnya kita mengoptimalkan ZISWAF bukan hanya sebagai instrumen sosial, melainkan sebagai perisai penyelamat bumi dan seluruh penghuninya.

14 hours ago
2















































