Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin secara resmi mengawali Ground Breaking penanda pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) di RSUP Dr. Sardjito pada Kamis (8/1/2026). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.Â
Harianjogja.com, SLEMAN—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara resmi memulai pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr. Sardjito Sleman sebagai bagian dari percepatan transformasi layanan kesehatan nasional.
Pembangunan CMU menjadi langkah awal penataan ulang kawasan RSUP Dr. Sardjito dari 32 gedung menjadi sembilan gedung terpadu. Meski jumlah bangunan berkurang, kapasitas dan kualitas layanan justru ditingkatkan hingga dua sampai tiga kali lipat, termasuk penambahan ruang terbuka hijau.
Menkes menargetkan transformasi RSUP Dr. Sardjito yang semula direncanakan rampung pada 2040 dapat dipercepat dan diresmikan pada 2029. Seluruh pembangunan diwajibkan mengikuti master plan agar rumah sakit berkembang secara terarah dan berkelanjutan.
"Dari 32 gedung kita mau tata ulang di lahan yang sama jadi 9 gedung. Tapi dengan pengurangan jumlah gedung bukan mengurangi fasilitas, malah fasilitasnya naik dua sampai tiga kali lipat, lahan hijaunya juga lebih bagus lagi," kata Budi pada Kamis (8/1/2026).
Dari sembilan bangunan, tujuh bangunan kata Budi diperuntukkan untuk pasien, sedangkan dua gedung lainnya untuk kantor. Transformasi RSUP Dr Sardjito diestimasi akan selesai pada tahun 2040. Namun menurut Gunadi, rentang waktu tersebut terlalu lama dan akan mengebut pembangunan RSUP Dr Sardjito bisa diresmikan 2029.
"Jadi kami akan coba usahakan di 2029," ujarnya
Sampai saat ini ada 40 Rumah Sakit Kemenkes di Indonesia. Pembangunan rumah sakit ini kata dia merupakan bagian dari transformasi kesehatan yang dicanangkan Kemenkes. Tujuannya, agar layanan kesehatan bagi masyarakat di seluruh Indonesia mudah diakses, kualitasnya bagus dan harganya terjangkau.
"Salah satu yang penting adalah kita benar-benar memperbaiki infrastruktur sarana-prasarananya yang lihat tadi adalah kondisi yang terjadi di hampir seluruh rumah sakit Kementerian Kesehatan dimana perencanaannya tidak pernah rapih. Tumpang tindih di mana-mana seperti ada tanah kosong langsung dibangun," ujarnya.
Sejak 2022 lalu Budi mendorong penyusunan sebuah master plan pembangunan rumah sakit yang tidak boleh diubah selama dia menjabat. Kata Budi semua pembangunan harus mengikuti master plan tersebut.
"Rumah Sakit Sardjito itu master plannya yang pertama kali jadi," ujarnya.
Dalam master plan, pembangunan rumah sakit RSUP Dr Sardjito disebut Budi mengusung gaya rumah sakit berarsitek modern, baru dan berorientasi masa depan.
"Tapi yang saya bilang, yang penting juga layanannya. Fokus ke pasien, bukan hanya menyembuhkan penyakit tapi juga merawat kehidupan masyarakat Jogja. Sehingga kalau ada apa-apa, masyarakat Jogja ini kan banyak lansianya. Nah, saya harapkan mereka kalau sakit ya enggak usah ke luar [negeri] bisa dirawat di sini dan sembuh," katanya.
Selain penyediaan infrastruktur, Budi menjelaskan yang menjadi tantangan berikutnya agar masyarakat memilih berobat ke Indonesia ialah layanan tenaga kesehatan. Budi berujar apabila kemampuan non-medis tenaga kesehatan juga harus ditingkatkan.
"Tantangan berikutnya adalah tenaga medis, tenaga kesehatan, dokter-dokternya. Itu saya titip Ibu, tolong dipastikan juga selain meningkatkan sarana prasarana, meningkatkan juga dokter-dokternya. Bukan hanya dari sisi jumlah dan keterampilan medis, tapi juga dari kemampuan non-medisnya," ucapnya.
Budi menambahkan bila alasan masyarakat berobat keluar negeri terkadang bukan karena fasilitas dan harga, tetapi juga soal pelayanan. Bagaimana para pasien itu kata budi merasa "diuwongke" atau dimanusiakan.
"Karena kan masyarakat butuh dokter yang komunikasinya baik, empatinya baik, bisa merawat ya, sehingga enggak ke luar negeri," ujarnya.
"Karena ke luar negeri itu bukan hanya masalah fasilitas dan harga, tapi masalah juga bagaimana mereka merasa lebih diuwongke sebagai pasien, didengarkan, waktu yang cukup untuk berkonsultasi dan merasa nyaman dan percaya bahwa dia mendapatkan perawatan yang baik," tandasnya.
Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Eniarti menjelaskan gedung Central Medical Unit yang dibangun di atas lahan seluas 10.043,77 meter persegi ini terdiri dari 13 lantai dan dua basement. Dengan luas total bangunan mencapai 55.574 meter persegi, gedung ini dirancang sebagai pusat layanan medis berteknologi tinggi yang dilengkapi berbagai fasilitas modern.
Fasilitas mutakhir yang kata Eniarti bakal di CMU meliputi kamar operasi canggih yang mendukung bedah robotik serta kamar operasi hibrida dengan sistem angio-CT, didukung oleh peralatan radiologi mutakhir seperti MRI 3 Tesla dan CT spectral photon-counting.
Rp917 Miliar
Selain itu, gedung ini dilengkapi dengan laboratorium produksi sel punca (stem cell), cath lab biplane, serta kapasitas layanan komprehensif berupa 52 tempat tidur emergensi, 29 kamar operasi, 6 cath-lab, 192 tempat tidur perawatan intensif, dan fasilitas parkir.
"Gedung ini diharapkan akan menjadi Center of Excellence (CoE) yang menyediakan berbagai layanan medis canggih, seperti layanan emergensi, layanan bedah minimal invasif, transplantasi organ, hingga layanan precision medicine dengan laboratorium sel dan sel punca," ujarnya.
Dengan nilai kontrak mencapai Rp917,97 miliar, keberadaan Gedung CMU ini diharapkan menjadi langkah maju dalam upaya mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi dan terjangkau bagi masyarakat.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai prosesi ground breaking CMU RSUP Dr. Sardjito, dapat dipahami sebagai ikhtiar bersama, untuk menata masa depan pelayanan kesehatan yang unggul, adil, dan bermartabat.
"Selayaknya makna filsafati Hamemayu Hayuning Bawana pembangunan sejati mencerminkan laku merawat kehidupan. CMU, adalah ikhtiar restorasi sosial, menjadi upaya Amemangun Karyenak Tyasing Sesami, memberikan spirit kepada para pasien, yang sedang berada pada masa rapuh, dalam perjalanan hidupnya," ujarnya.
CMU dirancang sebagai pusat orkestrasi layanan klinis dan operasional rumah sakit masa depan. Menurut Sultan, CMU mengintegrasikan layanan gawat darurat, perawatan intensif, ruang operasi, diagnostik canggih, hingga layanan berbasis digital dan komunitas, dalam satu alur yang utuh dan berkesinambungan.
"Pendekatan ini, resonan dengan model rumah sakit masa depan, yang menekankan integrasi lintas layanan, keselamatan pasien, dan kesinambungan perawatan sebagai satu kesatuan sistem," katanya.
Pembangunan CMU diharapkan menjadi tonggak penting penguatan layanan kesehatan rujukan di DIY sekaligus mendukung visi transformasi kesehatan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































