REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan, 17 juta penduduk yang tinggal di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa menghadapi krisis ekologis. Menurutnya, penanganan atas krisis tersebut tak cukup hanya dengan proyek pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall.
Jumhur menerangkan, sejak era kolonial hingga kini, kawasan Pantura telah menjadi urat nadi perekonomian. Tak hanya pelabuhan-pelabuhan, di sepanjang kawasan tersebut juga berdiri kawasan industri serta sentara perikanan dan pertanian yang vital.
Secara agregat, kata Jumhur, kawasan Pantura Jawa berkontribusi terhadap sekitar 27,5 persen PDB Indonesia atau setara 368,37 miliar dolar AS. “Namun di balik angka ekonomi yang megah tersebut, sekitar 17 juta jiwa penduduk pesisirnya tengah berhadapan langsung dengan ancaman eksistensi berupa abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah yang eskalatif,” ujar Jumhur ketika memberikan kuliah umum di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, hal tersebut merupakan paradoks Pantura. Di satu sisi, Pantura memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Namun di sisi lain, masyarakat yang tinggal di sana dalam kondisi terancam.
“Kemarin, kita melihat bahwa KLH (Kementerian Lingkungan Hidup) meneliti ada krisis ekologis di Pantura yang telah bisa dikatakan melewati fase atau siklus musiman,” kata Jumhur.

2 weeks ago
32

















































