REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Butiran debu, cairan pembersih, dan sisa-sisa tragedi yang belum sepenuhnya hilang tampak nyata di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Di area peron, para petugas dari KAI Services berjibaku dengan waktu menghapus jejak insiden tabrakan antara Kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line pada Senin (27/4/2026) malam WIB.
Gerakan mereka terukur, nyaris tanpa jedaa. Satu per satu sudut peron disisir. Sampah dikumpulkan, disapu, lalu dimasukkan ke dalam karung hitam besar. Namun yang paling berat bukan lah sampah yang terlihat, melainkan bercak-bercak darah yang telah mengering dan melekat kuat di permukaan lantai. Dengan sikat dan cairan khusus, noda itu diggosok berulang kali.
"Pembersihan di area peron ini kami lakukan bersama sekitar 10 orang petugas, termasuk satu orang pengawas," ujar seorang petugas kebersihan, Syamsul Hadi saat berbincang dengan Republika di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).
Suasana di peron terasa berbeda dari hari-hari biasa. Tidak ada riuh penumpang, tidak ada suara pengumuman keberangkatan yang bersahut-sahutan. Yang terdengar hanya gesekan sikat dengan lantai dan sesekali instruksi singkat antarpetugas. Selama hampir dua jam, mereka bekerja tanpa henti.
"Kami bersihkan sampah, tapi yang paling banyak itu bercak darah yang sudah mengering, jadi harus disikat brushing," kisah pria asal Kranji, Bekasi, Jawa Barat tersebut.
Area yang Syamsul dan teman-temannya tangani bukan sekadar ruang tunggu. Peron ini adalah jalur hidup bagi puluhan ribuan komuter atau penglaju setiap hari, orang-orang yang bergantung pada ketepatan waktu dan rasa aman.
Syamsul mengaku, hal itu bukan pekerjaan yang asing, tetapi situasinya jauh dari kebiasaan. Dia dan rekan-rekannya sehari-hari bertugas di lintasan panjang, dari Stasiun Tanjung Priok hingga Stasiun Cikarang. Mereka terbiasa membersihkan area rel, termasuk saat terjadi insiden kecil seperti kereta anjlok. Namun kali ini berbeda.
"Ini baru pertama kali membersihkan area stasiun setelah kecelakaan, jadi seperti tidak biasa rasanya. Biasanya kita bersih-bersih area kecelakaannya itu di rel ketika kereta anjlok," ucap pria berusia 32 tahun tersebut.
Beberapa petugas terlihat sesekali berhenti, menarik napas panjang sebelum kembali bekerja. Bukan karena lelah semata, tetapi karena beban suasana yang masih terasa berat.

2 hours ago
2














































