Resmiati
Info Sehat | 2026-07-27 22:40:05
oleh: Resmiati, Azyyati Ridha Alfian
Ketika berbicara tentang gizi, masyarakat umumnya lebih mengenal karbohidrat, protein, lemak, atau vitamin. Padahal, terdapat kelompok zat gizi lain yang jumlah kebutuhannya sangat kecil, tetapi memiliki pengaruh luar biasa terhadap kesehatan manusia, yaitu mineral mikro (trace minerals). Meski hanya dibutuhkan dalam satuan miligram bahkan mikrogram setiap hari, kekurangan maupun kelebihan mineral mikro dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, daya tahan tubuh, kecerdasan, hingga produktivitas seseorang.
ilustrasi
Ironisnya, keberadaan mineral mikro sering kali kurang mendapat perhatian. Banyak orang beranggapan bahwa selama kebutuhan makan terpenuhi, tubuh akan otomatis memperoleh semua zat gizi yang diperlukan. Padahal, pola konsumsi yang monoton, rendah sayur dan buah, atau terlalu bergantung pada makanan olahan dapat menyebabkan ketidakseimbangan asupan mineral mikro tanpa disadari.
Mineral mikro merupakan kelompok mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif kecil dibandingkan mineral makro seperti kalsium, fosfor, atau magnesium. Kelompok ini meliputi zat besi, seng, yodium, selenium, tembaga, fluor, mangan, kromium, dan molibdenum. Masing-masing memiliki fungsi spesifik yang saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Salah satu mineral mikro yang paling dikenal adalah zat besi (iron). Mineral ini berperan dalam pembentukan hemoglobin yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Kekurangan zat besi menjadi penyebab utama anemia yang masih banyak ditemukan pada remaja putri, ibu hamil, dan anak-anak. Dampaknya bukan hanya rasa lelah dan menurunnya konsentrasi, tetapi juga berpengaruh terhadap prestasi belajar, produktivitas kerja, hingga meningkatnya risiko komplikasi kehamilan.
Tidak kalah penting adalah seng (zinc). Mineral ini berperan dalam pertumbuhan, penyembuhan luka, pembentukan sistem imun, dan perkembangan otak. Anak yang kekurangan seng lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan, infeksi berulang, serta keterlambatan perkembangan. Sebaliknya, konsumsi seng secara berlebihan dalam jangka panjang dapat mengganggu penyerapan tembaga dan menimbulkan gangguan metabolisme.
Yodium merupakan mineral yang memiliki hubungan erat dengan fungsi kelenjar tiroid. Hormon tiroid mengatur metabolisme tubuh sekaligus berperan penting dalam perkembangan otak janin dan anak. Kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok, hipotiroidisme, hingga gangguan perkembangan intelektual. Oleh karena itu, penggunaan garam beryodium menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang terbukti efektif mencegah gangguan akibat kekurangan yodium.
Selenium juga memiliki fungsi penting sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Mineral ini mendukung sistem kekebalan tubuh dan membantu menjaga fungsi tiroid. Namun, konsumsi selenium yang berlebihan dapat menyebabkan kerontokan rambut, kuku rapuh, gangguan saraf, hingga keluhan saluran cerna.
Mineral mikro lainnya seperti tembaga, mangan, kromium, fluor, dan molibdenum mungkin kurang populer di masyarakat, tetapi memiliki peran yang tidak kalah penting. Tembaga membantu pembentukan sel darah merah dan metabolisme zat besi. Fluor berperan dalam menjaga kesehatan gigi dan tulang. Kromium membantu metabolisme glukosa sehingga berkontribusi terhadap pengendalian kadar gula darah. Sementara mangan dan molibdenum terlibat dalam berbagai reaksi enzimatik yang menjaga fungsi normal tubuh.
Tubuh tidak dapat memproduksi mineral mikro sendiri. Seluruh kebutuhan harus dipenuhi melalui makanan sehari-hari. Kabar baiknya, Indonesia memiliki beragam sumber pangan yang kaya mineral mikro. Zat besi banyak ditemukan pada hati, daging merah, ikan, ayam, telur, bayam, dan kacang-kacangan. Seng tersedia dalam seafood, daging sapi, ayam, susu, telur, serta kacang-kacangan. Yodium diperoleh dari ikan laut, rumput laut, udang, dan garam beryodium. Selenium banyak terdapat pada ikan, telur, daging, serta beberapa jenis kacang. Sementara fluor dapat diperoleh dari air minum tertentu, teh, dan makanan laut.
Namun, pemenuhan kebutuhan mineral mikro tidak cukup hanya dengan mengetahui sumber makanannya. Cara pengolahan juga memengaruhi kandungan zat gizi. Sayuran yang dimasak terlalu lama dapat mengalami penurunan kandungan beberapa mineral yang larut selama proses pemasakan. Demikian pula konsumsi teh atau kopi sesaat setelah makan dapat menghambat penyerapan zat besi. Sebaliknya, konsumsi buah yang kaya vitamin C bersamaan dengan makanan sumber zat besi dapat meningkatkan penyerapannya.
Yang juga perlu dipahami adalah bahwa lebih banyak belum tentu lebih baik. Meningkatnya tren konsumsi suplemen membuat sebagian masyarakat menganggap mineral dapat dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa risiko. Padahal, kelebihan mineral mikro juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Misalnya, kelebihan zat besi dapat merusak organ hati, sementara kelebihan fluor dapat menyebabkan fluorosis pada gigi dan tulang. Oleh karena itu, penggunaan suplemen sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, masalah kekurangan mineral mikro masih menjadi tantangan di Indonesia. Anemia pada remaja putri dan ibu hamil, gangguan akibat kekurangan yodium, maupun kekurangan seng pada anak masih ditemukan di berbagai daerah. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan individu, tetapi juga kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Anak yang mengalami kekurangan zat gizi mikro berisiko memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah, produktivitas yang menurun ketika dewasa, serta lebih rentan terhadap penyakit.
Karena itu, upaya pemenuhan kebutuhan mineral mikro harus dilakukan secara menyeluruh. Edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang perlu terus diperkuat. Program fortifikasi pangan, seperti penggunaan garam beryodium, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, serta promosi konsumsi pangan lokal yang beragam harus terus dikembangkan. Di sisi lain, masyarakat juga perlu didorong untuk lebih bijak dalam menggunakan suplemen dan tidak mudah terpengaruh oleh klaim produk yang belum memiliki dasar ilmiah.
Perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah, dunia pendidikan, dan media massa memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat. Informasi yang benar mengenai fungsi, sumber, dan risiko kelebihan maupun kekurangan mineral mikro perlu disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Literasi gizi yang baik akan membantu masyarakat membuat pilihan pangan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kesehatan tidak selalu ditentukan oleh zat gizi yang jumlahnya besar. Justru mineral mikro yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil sering kali menjadi penentu keberhasilan berbagai proses penting di dalam tubuh. Dari pembentukan darah, pertumbuhan anak, fungsi otak, hingga daya tahan tubuh, semuanya bergantung pada keseimbangan mineral mikro.
Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih besar terhadap zat gizi yang selama ini sering terlupakan. Sebab, di balik ukurannya yang kecil, mineral mikro memiliki peran besar dalam membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Kesehatan bangsa tidak hanya dibangun dari makanan yang mengenyangkan, tetapi juga dari kecukupan zat gizi mikro yang menopang kehidupan sejak awal hingga akhir hayat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

3 hours ago
5













































