Model Pencitraan dan Dosa Kemunafikan

2 hours ago 5

Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di zaman ini, pencitraan menjadi bahasa sosial yang sangat kuat, apalagi dengan adanya media sosial. Orang tidak hanya ingin menjadi baik, tetapi juga muncul keinginan terlihat baik baik itu disadari ataupun tidak. 

Tidak hanya ingin bekerja, tetapi ingin tampak paling bekerja pada lingkungan tertentu. Tidak hanya ingin peduli, tetapi ingin dipotret sebagai sosok yang paling peduli terhadap suatu situasi. Di sinilah persoalan bermula ketika kebaikan tidak lagi berangkat dari hati, melainkan dari kebutuhan agar dipersepsi sempurna dan baik dimata pihak lain. 

Pencitraan sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam interaksi sosial, setiap orang memang mempresentasikan diri sesuai apa yang dijabat, disandang dan diperankannya. Seorang guru ingin tampak layak diteladani. Seorang pemimpin ingin memberi kesan berwibawa dan percaya diri. Seorang pejabat ingin terlihat dekat dengan rakyat dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat. Seorang tokoh agama ingin terlihat menjaga akhlak. Dalam batas tertentu, pengelolaan kesan adalah bagian dari etika sosial. Masalahnya muncul ketika citra yang dibangun tidak lagi mencerminkan isi batin dan tindakan nyata.

Dalam psikologi sosial, Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life menyebut kehidupan sosial seperti panggung. Manusia memainkan peran di hadapan orang lain. Front region/front stage adalah ruang ketika seseorang tampil di hadapan audiens dan menonjolkan kesan yang ingin diterima orang lain. Sebaliknya back region / backstage tempat watak asli, kepentingan, dan motif tersembunyi lebih mudah terlihat. Pencitraan menjadi berbahaya ketika panggung depan penuh kesalehan, kepedulian, dan kejujuran, sementara panggung belakang dipenuhi manipulasi, kerakusan, dan pengkhianatan. Akibatnya, kemunafikan dimunculkan. 

Model pencitraan semacam ini biasanya memiliki beberapa pola. Pertama, pencitraan simbolik. Seseorang menampilkan simbol-simbol kebaikan: pakaian sederhana, bahasa religius, gaya hidup merakyat, atau unggahan penuh empati. Simbol itu penting, tetapi bisa menipu bila tidak diikuti substansi. Orang bisa tampak sederhana, tetapi kebijakannya menyakiti rakyat. Orang bisa tampak religius, tetapi perilakunya jauh dari amanah.

Kedua, pencitraan performatif. Dalam model ini, tindakan baik dilakukan terutama karena ada penonton. Bantuan diberikan ketika kamera hadir. Kepedulian muncul saat ada media meliput. Permintaan maaf disampaikan setelah viral. Kebaikan berubah menjadi pertunjukan. Padahal, nilai moral sejati justru diuji ketika tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan publik, dan tidak ada keuntungan sosial yang bisa dipanen.

Ketiga, pencitraan defensif. Ini dilakukan untuk menutupi kesalahan. Seseorang yang sedang disorot karena masalah etika tiba-tiba tampil lebih religius, lebih ramah, lebih dermawan, atau lebih nasionalis. Citra dipakai sebagai tameng. Publik diajak melihat wajah yang sudah dirias, bukan luka yang sedang ditutup-tutupi. Dalam situasi ini, pencitraan bukan sekadar strategi komunikasi, tetapi bentuk pengaburan kebenaran.

Keempat, pencitraan populistik. Ini sering muncul dalam kehidupan politik dan birokrasi. Pemimpin hadir di tengah rakyat, memeluk warga miskin, makan di warung kecil, atau berbicara dengan bahasa sederhana. Semua itu bisa saja tulus. Tetapi bila setelah itu kebijakan tetap berpihak pada kelompok kuat, rakyat hanya dijadikan dekorasi moral. Rakyat hadir dalam foto, tetapi absen dalam keputusan.

Di titik inilah pencitraan bertemu dengan kemunafikan. Munafik bukan sekadar orang yang berbeda antara ucapan dan tindakan. Munafik adalah orang yang secara sadar membangun jarak antara wajah luar dengan isi batinnya. Ia berkata baik untuk menutupi niat buruk. Ia menjanjikan amanah, tetapi menyimpan pengkhianatan. Ia memakai bahasa moral untuk memburu kepentingan pribadi.

Al-Qur’an memberi peringatan keras tentang kemunafikan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 8–9 disebutkan bahwa ada manusia yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya. Ayat ini sangat kuat: kemunafikan bukan hanya menipu orang lain, tetapi juga menipu diri sendiri.

Dalam Surah An-Nisa ayat 145, Allah bahkan menegaskan bahwa orang-orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka. Ini menunjukkan bahwa dosa kemunafikan sangat berat. Mengapa? Karena kemunafikan merusak kepercayaan. Orang kafir jelas posisinya. Orang jahat yang terang-terangan mudah dikenali. Tetapi orang munafik berbahaya karena tampil dengan wajah kebaikan sambil menyembunyikan keburukan.

Hadis Nabi juga memberi tanda-tanda kemunafikan: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat. Tiga tanda ini sangat relevan dengan kehidupan sosial hari ini. Banyak orang pandai berbicara tentang integritas, tetapi mudah berdusta. Banyak yang mudah membuat janji, tetapi ringan mengingkari. Banyak yang diberi amanah, tetapi mengubah amanah menjadi kesempatan memperkaya diri.

Masalahnya, pencitraan sering lebih cepat mendapat panggung daripada kejujuran. Dengan dukungan media sosial, yang tampak bisa lebih dipercaya daripada yang nyata. Foto bisa mengalahkan fakta. Narasi bisa mengalahkan bukti. Orang yang pandai mengelola kesan bisa tampak lebih mulia daripada orang yang diam-diam bekerja dengan tulus. Akibatnya, masyarakat pelan-pelan sulit dalam membedakan antara kebaikan yang asli dan kebaikan yang dipentaskan.

Karena itu, kita perlu membangun kembali kejujuran moral. Ukuran kebaikan jangan hanya dilihat dari apa yang diucapkan, tetapi dari konsistensi tindakan. Jangan hanya menilai orang dari apa yang ditampilkan di depan publik, tetapi dari rekam jejaknya ketika memegang amanah. Jangan mudah terpesona oleh simbol, karena simbol bisa dipakai siapa saja. Yang harus dicari adalah kesesuaian antara kata, hati, dan perbuatan.

Pencitraan yang sehat adalah ketika tampilan luar menjadi cermin dari sikap, perilaku dan isi batin. Seorang pemimpin tampil sederhana karena memang tidak rakus. Seorang pejabat bicara amanah karena memang menjaga kepercayaan. Seorang tokoh berbicara agama karena memang takut kepada Allah, bukan karena ingin dipuja manusia. Ketika citra lahir dari karakter dan ketulusan, maka ia akan menjadi keteladanan. Namun sebaliknya bila citra dipakai untuk menutupi kebusukan, ia berubah menjadi kemunafikan.

Pada akhirnya, dosa kemunafikan bukan hanya dosa pribadi. Ia bisa menjadi penyakit sosial. Bila kemunafikan dibiarkan, masyarakat akan terbiasa dengan kepalsuan. Orang tidak lagi malu berdusta, asal tampil santun. Orang tidak lagi takut berkhianat, asal pandai berbicara tentang amanah. Orang tidak lagi merasa bersalah, asal citranya tetap terjaga.

Maka, pertanyaan penting bagi kita bukan sekadar: bagaimana kita terlihat di mata manusia? Pertanyaan yang lebih dalam adalah: bagaimana kita terlihat di hadapan Allah? Sebab manusia bisa tertipu oleh panggung, kamera, dan kata-kata indah dan manis. Tetapi Allah mengetahui yang tersembunyi di balik semua itu. Di hadapan manusia, pencitraan mungkin bisa menyelamatkan nama. Tetapi di hadapan Allah, hanya kejujuran hati dan kebenaran amal yang akan menyelamatkan jiwa. Karena itu, kita jangan mudah tertipu penampilan. Pikir dulu, buktikan dan baru membuat kesan.  

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|