MUI, Board of Peace, dan Ujian Kepercayaan Publik

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menimbulkan gelombang reaksi luas di dalam negeri. Polemik ini semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam BoP di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss sebuah forum global yang bagi sebagian publik Indonesia sarat simbol dominasi elite oligarki pemodal global (OPG) dunia. Di tengah kritik tersebut, perubahan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI)—dari semula mendesak Indonesia keluar, lalu beralih mendukung dengan syarat—menjadi titik penting yang patut dianalisis secara jernih dan proporsional.

Sebelum pertemuan konsultasi di Istana Negara pada Selasa (3/2/2026), sejumlah pimpinan MUI secara terbuka menyatakan keberatan atas keanggotaan Indonesia di BoP. Kekhawatiran utama yang disampaikan adalah potensi forum tersebut menjadi instrumen “perdamaian semu” di Gaza: perdamaian yang menghentikan kekerasan tanpa menyentuh akar persoalan, yakni pendudukan dan penjajahan Israel atas tanah Palestina. Kekhawatiran ini wajar, mengingat sejarah panjang inisiatif perdamaian internasional yang kerap mengabaikan keadilan substantif bagi rakyat Palestina.

Namun, setelah bertemu Presiden Prabowo dan mendengar penjelasan pemerintah, sikap MUI mengalami pergeseran. MUI menyatakan dukungan terhadap keputusan Indonesia bergabung dengan BoP, dengan penegasan bahwa dukungan tersebut bersifat bersyarat. Indonesia diharapkan menggunakan posisinya untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina secara penuh dan berdaulat, serta tidak segan menarik diri jika BoP tidak menghasilkan kemaslahatan nyata bagi rakyat Palestina.

Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa MUI tidak berdiri di luar dinamika kebijakan negara, melainkan mencoba mengambil posisi sebagai mitra kritis. MUI tampaknya menerima argumen bahwa kehadiran Indonesia di forum internasional dapat menjadi sarana political leverage—masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan untuk memengaruhi arah kebijakan dari dalam, bukan sekadar menjadi penonton yang lantang di luar.

Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Di ruang publik, perubahan sikap MUI justru memunculkan pertanyaan baru. Sebagian masyarakat bertanya: apakah dukungan ini lahir dari pertimbangan strategis yang matang, atau sekadar bentuk kompromi politik? Pertanyaan ini mengemuka karena publik tidak hanya menilai kebijakan luar negeri dari naskah diplomatik, tetapi juga dari simbol dan gestur politik yang menyertainya.

Penandatanganan piagam BoP di Davos menjadi faktor krusial. Bagi sebagian besar umat Islam Indonesia, Davos bukan sekadar lokasi pertemuan, melainkan simbol globalisme, kapitalisme, dan dominasi Barat yang sejak 1917 mensponsori dan melahirkan entitas penjajah Israel di tanah historis Palestina dan Baitul Maqdis.

Dalam konteks trauma kolektif akibat agresi Israel di Gaza dan veto berulang Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB, kata “perdamaian” yang datang dari Barat mudah dibaca sebagai upaya membekukan konflik, melucuti senjata faksi perlawanan dan menata ulang sosial politik Gaza dengan deradikalisasi yang dikaitkan dengan rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan, demi menjamin keamanan Israel, bukan menegakkan keadilan bagi korban genosida di Gaza. Di sinilah tuduhan yang menerpa Presiden Prabowo seperti “antek asing”, "madness", atau “mengkhianati Palestina”, dalam banyak algoritma medsos menemukan momentumnya, meski sering kali disampaikan secara emosional dan berlebihan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|