Industri Asuransi Hadapi Tekanan Klaim dan Regulasi, IFG Perkuat Transformasi

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Industri asuransi dan penjaminan menghadapi tekanan dari meningkatnya klaim, volatilitas pasar keuangan, serta penguatan regulasi. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri memperkuat strategi bisnis dan transformasi untuk menjaga daya saing.

Sekretaris Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG) Denny S. Adji mengatakan, tekanan nilai tukar dan perlambatan daya beli turut memengaruhi dinamika sektor keuangan, termasuk industri asuransi dan penjaminan.

“Tekanan nilai tukar yang meningkatkan volatilitas pasar keuangan serta perlambatan daya beli dan aktivitas UMKM menjadi faktor yang perlu diantisipasi pelaku industri keuangan, termasuk sektor asuransi dan penjaminan,” kata Denny dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Denny menjelaskan, industri juga menghadapi penguatan regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong struktur industri lebih sehat dan berkelanjutan. Kebijakan tersebut antara lain terkait pemisahan unit usaha syariah, penguatan permodalan perusahaan asuransi, serta pengaturan asuransi kredit.

Selain itu, industri menghadapi tekanan dari meningkatnya rasio klaim, terutama pada lini asuransi kesehatan.

“Berdasarkan data industri, pertumbuhan klaim asuransi kesehatan tercatat mencapai sekitar 22 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan premi yang hanya sekitar tiga persen, sehingga memberikan tekanan terhadap profitabilitas industri,” kata Denny.

Di tengah dinamika tersebut, IFG mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Secara konsolidasi, pendapatan IFG mencapai sekitar Rp11,47 triliun dari target Rp11,21 triliun atau sekitar 102 persen dari target RKAP 2025.

“Angka tersebut masih bersifat unaudited seiring proses finalisasi laporan keuangan konsolidasi,” kata Denny.

Memasuki 2026, IFG menyiapkan agenda transformasi untuk memperkuat daya saing bisnis. Langkah tersebut mencakup penguatan organisasi melalui transformasi sumber daya manusia dan budaya perusahaan yang berorientasi pada pelanggan.

“IFG juga akan terus mengoptimalkan kinerja program penugasan pemerintah serta memperkuat sinergi bisnis di dalam grup melalui pengembangan berbagai kanal distribusi, baik direct channel, korporasi, agen, maupun digital,” kata Denny.

IFG juga mendorong kolaborasi lintas entitas di ekosistem BUMN untuk membuka peluang model bisnis baru melalui pendekatan ecosystem play serta penguatan program cross selling antar entitas. Perseroan juga melanjutkan agenda penataan bisnis asuransi dan penjaminan di ekosistem Danantara Indonesia.

“Melalui langkah-langkah tersebut, IFG berharap dapat terus memperkuat peran industri asuransi dan penjaminan sebagai instrumen penting dalam mendukung stabilitas ekonomi serta pertumbuhan sektor riil di Indonesia,” kata Denny.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|