Mundurnya Gubernur BI Dinilai Bisa Memicu Kekhawatiran Pasar soal Independensi

1 hour ago 3

Sosok pengganti Perry Warjiyo disebut akan sangat menentukan respons dan kepercayaan

Rep: M. Nursyamsyi,M. Nursyamsyi,Eva Rianti/ Red: Gita Amanda

Mensesneg Prasetyo Hadi mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI di Kompleks BI, Jakarta, Senin (27/6/2026). (Eva Rianti/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom CORE Dipo Ramli menilai mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap independensi bank sentral. Perubahan tersebut dinilai dapat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan moneter serta hubungan antara kebijakan fiskal dan moneter.

"Saya rasa untuk pasar mungkin bisa kurang baik, ya, persepsinya," kata Dipo saat dihubungi Republika di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Menurut Dipo, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pertanyaan, terutama mengenai independensi Bank Indonesia dan perubahan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Ia menilai pasar dapat melihat adanya risiko menguatnya tema fiscal dominance, yakni ketika kebijakan fiskal dinilai lebih dominan dibandingkan kebijakan moneter.

"Mungkin bisa menimbulkan pertanyaan, terutama soal independensi Bank Indonesia dan Undang-Undang P2SK yang baru diubah ini. Ya kan, takutnya ini memperkuat tema fiscal dominance atau ketika fiskal itu lebih penting daripada moneter," ucapnya.

Dipo juga menyoroti meningkatnya porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia. Berdasarkan data terakhir yang dilihatnya, hampir 30 persen SBN telah dipegang oleh Bank Indonesia. Kondisi ini, menurut dia, dapat menjadi perhatian pasar dalam menilai independensi dan posisi bank sentral dalam kebijakan ekonomi.

"Ya kan, apalagi kalau kita lihat akhir-akhir ini burden sharing itu jumlahnya naik terus. Dari sisi persentase, angka terakhir yang saya lihat hampir 30 persen SBN dipegang oleh Bank Indonesia," lanjut Dipo.

Dipo mengatakan persepsi pasar akan sangat bergantung pada sosok yang nantinya menggantikan Perry Warjiyo. Ia menilai, jika calon pengganti belum jelas dan tidak memiliki pengalaman di bidang moneter, kondisi tersebut dapat semakin memperburuk persepsi pasar.

"Jadi sebenarnya tergantung siapa penggantinya. Tapi saya rasa kalau masih belum clear dan yang baru itu tidak memiliki pengalaman di bidang moneter, saya rasa persepsi pasar kurang baik," katanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|