Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman kenaikan permukaan air laut dan banjir rob di pesisir utara Pulau Jawa bukanlah isapan jempol belaka. Dalam pidato kenegaraan yang disampaikan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan ambisi besar untuk membangun tanggul laut raksasa alias giant sea wall di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Infrastruktur strategis ini dirancang membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur.
Proyek ini bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Pemerintah memperkirakan pembangunannya berlangsung selama 15 hingga 20 tahun, kemungkinan melintasi beberapa periode pemerintahan. Namun, Prabowo bertekad untuk memulainya sekarang, menjadikannya warisan bagi generasi mendatang.
"Saya tidak tahu presiden ke berapa yang akan meresmikan, tapi saya bertekad Presiden ke-8 akan mulai proyek ini," ujar Prabowo dalam pidatonya.
Proyek 15 Segmen dan Investasi Raksasa
Pemerintah merancang pembangunan proyek tersebut ke dalam 15 segmen yang mencakup wilayah dari Banten hingga Gresik. Pembagian segmen ini diharapkan membuat pembangunan dapat dilakukan secara bertahap dan lebih terukur. Jika dilaksanakan serentak, Prabowo meyakini proyek bisa selesai kurang dari 20 tahun.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan proyek raksasa tersebut diperkirakan mencapai 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.782 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.827 per dolar AS). Besarnya biaya ini mencerminkan skala proyek yang tidak hanya berfungsi sebagai tanggul laut, tetapi juga dirancang sebagai infrastruktur multifungsi untuk mendukung ketahanan wilayah pesisir.
Lindungi 50 Juta Warga dan 38 Persen PDB
Prabowo menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan tanggul untuk membendung air laut. Pemerintah ingin menjadikan giant sea wall sebagai infrastruktur multifungsi yang dapat melindungi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Giant sea wall kita di pantai utara Jawa harus kita bangun segera dan menjadi sabuk perlindungan bagi jutaan warga Pantura Jawa, untuk menyelamatkan puluhan ribu hektare yang sudah mulai tenggelam oleh naiknya laut," ujar Prabowo.
Manfaat proyek ini sangat besar. Jika rampung, tanggul laut raksasa ini akan melindungi 50 juta penduduk di pesisir Pantura Jawa sekaligus memastikan keberlangsungan 38 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Di Pantura terdapat 70 kawasan industri, 5 kawasan ekonomi, dan poros logistik nasional.
"Selain itu, giant sea wall kita di pantai utara Jawa harus menjadi infrastruktur air bersih, harus menjadi jalur pertumbuhan baru, dan proyek rekayasa yang membangun kemampuan anak bangsa," tegas Prabowo.
Belajar dari Negara Lain
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus belajar dari negara lain dalam membangun infrastruktur perlindungan jangka panjang tanpa menunggu bencana datang.
"Kita juga harus membangun giant sea wall, tanggul besar untuk mengamankan pantai utara Pulau Jawa. Ini mutlak harus kita lakukan, jangan kita tunggu bencana datang. Kita harus belajar dari negara lain, negara Belanda membangun infrastruktur perlindungan jangka panjang tanpa perlu menunggu bencana," ujar Prabowo.
Negara yang Menerapkan Tanggul Laut
Indonesia sebenarnya bukan negara pertama yang mengembangkan infrastruktur perlindungan pesisir berskala besar. Sejumlah negara telah membangun tanggul laut, sistem pengendali banjir, hingga penghalang gelombang untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman air laut.
1. Belanda — Delta Works dan Afsluitdijk
Belanda adalah pembanding paling relevan bagi Indonesia. Sebagian wilayah negara ini berada di bawah permukaan laut sehingga perlindungan pesisir menjadi bagian dari kebijakan nasional jangka panjang. Delta Works, jaringan infrastruktur yang terdiri atas tanggul, bendungan, pintu air, dan penghalang gelombang badai, dibangun setelah banjir besar pada 1953 yang menewaskan lebih dari 1.800 orang. Belanda juga memiliki Afsluitdijk, tanggul sepanjang sekitar 32 kilometer yang selesai dibangun pada 1932.
2. Italia — Proyek MOSE di Venesia
Venesia dilindungi oleh proyek MOSE (Modulo Sperimentale Elettromeccanico), sistem penghalang banjir yang terdiri atas 78 pintu air bergerak di tiga jalur masuk menuju laguna. Pintu-pintu tersebut dioperasikan ketika permukaan air laut diperkirakan mengalami kenaikan ekstrem atau terjadi fenomena acqua alta.
3. Jepang — Tanggul Pesisir Pascatsunami
Jepang memiliki pengalaman panjang menghadapi gempa dan tsunami. Setelah tsunami Tohoku pada 11 Maret 2011, pemerintah Jepang membangun dan memperkuat tanggul pesisir di sepanjang pantai timur laut. Program perlindungan itu mencakup pembangunan tanggul sepanjang ratusan kilometer, dengan ketinggian di sejumlah lokasi mencapai sekitar 14,7 meter. Pemerintah Jepang mengalokasikan dana hingga USD 12 miliar (sekitar Rp195 triliun) untuk proyek ini.
4. China — Huating Seawall di Shanghai
China memiliki sejarah panjang dalam membangun tanggul laut. Salah satu contohnya adalah Huating Seawall di kawasan Fengxian, Shanghai. Tanggul ini memiliki panjang sekitar 8,6 kilometer dan sejarah lebih dari tiga abad, dijuluki "Tembok Besar Laut" (the Great Wall of the Sea).
5. Inggris — Thames Barrier
Thames Barrier di London merupakan salah satu sistem pengendali banjir pasang paling maju di dunia. Sistem ini terdiri atas 10 gerbang baja raksasa yang dapat ditutup ketika terjadi risiko banjir pasang dari Laut Utara, mulai beroperasi pada 1982.
6. Amerika Serikat — Sistem Perlindungan New Orleans
New Orleans membangun sistem perlindungan banjir yang menggabungkan tanggul, pompa, pintu air, kanal, dan penghalang gelombang setelah Badai Katrina pada 2005, yang menewaskan lebih dari 1.800 orang.
Negara Lain yang Relevan
Singapura mengembangkan sistem perlindungan pesisir yang terintegrasi dengan reklamasi, pelabuhan, drainase perkotaan, dan pemantauan kenaikan muka laut.
Korea Selatan memiliki Saemangeum Seawall, tanggul laut sepanjang sekitar 33,9 kilometer di pesisir barat, yang dikaitkan dengan reklamasi, pertanian, kawasan industri, dan pengembangan ekonomi.
Prabowo juga mengungkapkan bahwa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menghasilkan terobosan teknologi yang akan digunakan dalam proyek giant sea wall tersebut. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya melindungi pantai, tetapi juga menjadi ruang bagi pengembangan kemampuan teknologi dan rekayasa dalam negeri.
"Pembangunan ini kita rencanakan dibagi 15 segmen dari Banten sampai Jawa Timur, sampai Gresik. Dan jika dilaksanakan serentak, sesungguhnya mungkin berkurang dari 20 tahun. Apapun, kita harus berani mulai. Ini menyangkut hajat hidup puluhan juta rakyat kita yang hidup di Pantura," jelas Prabowo.
Jika terealisasi sesuai rencana, giant sea wall Pantura akan menjadi salah satu proyek infrastruktur pesisir terbesar dalam sejarah Indonesia, sekaligus menjadi benteng utama untuk melindungi kawasan ekonomi paling vital di Tanah Air dari ancaman perubahan lingkungan di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































