Pancasila di Pusaran Zaman, Menguji Ketahanan Menghadapi Tantangan Lokal dan Global

1 hour ago 2

Pengunjung berfoto di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa (1/101/204). Setiap tanggal 1 Oktober yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, sejumlah pelajar hingga warga terlihat ramai mengunjungi Monumen Pancasila Sakti untuk mempelajari tentang sejarah. Monumen Pancasila Sakti merupakan salah satu tempat yang menyajikan beragam diorama dan museum untuk mengenang peristiwa pasca-pemberontakan Gerakan 30 September 1965 atau (G30S/PKI) yang menjadi simbol kesaktian pancasila sebagai ideologi negara yang diperingati setiap 1 Oktober.

Oleh: Dr I Wayan Sudirta SH M H, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Bulan Juni menempati ruang yang teramat sakral dalam kalender historis bangsa Indonesia. Bulan ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan "Bulan Bung Karno", sebuah monumen ingatan yang membawa kita kembali pada rahim pertiwi tempat gagasan-gagasan besar tentang keindonesiaan dilahirkan.

Puncaknya adalah 1 Juni, momen di mana Sang Proklamator berpidato di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tahun 1945, menggali dan mengartikulasikan lima mutiara terpendam dari bumi Nusantara yang kini kita agungkan sebagai Pancasila.

Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 ini mengusung tema agung: "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia".

Tema ini bukanlah sebuah retorika kosong, melainkan panggilan sejarah untuk kembali menjadikan Pancasila sebagai kompas navigasi dalam menghadapi pusaran krisis, baik di tingkat nasional maupun global.

Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dibangun di atas ruang hampa, melainkan ditempa dalam kawah candradimuka persidangan BPUPKI pada akhir Mei hingga awal Juni 1945.

Sidang tersebut bukanlah forum politik biasa, melainkan panggung dialektika intelektual tingkat tinggi di mana para arsitek bangsa memeras pikiran untuk merumuskan philosophische grondslag (filosofi dasar) atau weltanschauung (pandangan hidup) bagi sebuah negara kepulauan yang luar biasa majemuk.

Lahirnya Pancasila bukanlah hasil perenungan semalam, melainkan kulminasi dari pergulatan gagasan tiga tokoh besar bangsa: Mohammad Yamin, Soepomo, dan berpuncak pada pidato monumental Ir Soekarno.

Sejarah perumusan dasar negara dibuka pada tanggal 29 Mei 1945 oleh gagasan cemerlang Mohammad Yamin.

Dengan visi kebangsaannya yang kuat, Yamin meletakkan kerangka awal yang berakar pada peradaban dan sejarah Nusantara.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|