Pedasnya Rujak Cirebon Antarkan Machmudah Menyaksikan Ka'bah

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Sengatan cabai setan dalam sepiring rujak ulek khas Cirebon bisa membuat penikmatnya ketagihan. Panganan segar itu pun memiliki makna istimewa bagi Machmudah (62 tahun) yang telah melapangkan jalannya menuju Tanah Suci.

Perempuan asal Desa Marikangen, Cirebon, Jawa Barat, tersebut sudah puluhan tahun menjajakan rujak ulek di dekat rumahnya. Celemek merah polkadot yang melekat di tubuhnya menjadi saksi bisu perjuangan perempuan paruh baya itu.

Jalan menuju Makkah, Arab Saudi, bukan ia tempuh dari ruang berpendingin atau meja kerja yang rapi, melainkan dari kios sempit beratapkan seng. Di tempat itu, Machmudah memendam asa yang sudah lama didambakan, yakni berangkat haji dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.

Saat ditemui pada Selasa (14/4/2026), ia tengah sibuk meracik bumbu, menyiangi sayuran, dan menyiapkan pesanan pelanggan yang datang silih berganti. Tangannya cekatan memilih bahan. Sesekali menunduk, dia memastikan setiap racikan pas seperti yang diinginkan pembeli.

Wajahnya terlihat serius, tetapi menyimpan ketenangan khas orang yang sudah lama berdamai dengan kerja keras. 

Machmudah memulai aktivitasnya sejak pagi. Seusai menunaikan sholat Subuh berjamaah, ia sarapan sebentar, lalu mulai menyiapkan sayur dan bumbu dagangan. Sekitar pukul 08.00 WIB, tangan Machmudah sudah sibuk memilah bahan. Sejam kemudian, nasi diturunkan ke bawah, lalu rujak ditata rapi untuk menyambut pembeli.

Kiosnya jauh dari kesan mewah. Hanya tampah bambu, bangku pendek, dan cobek yang setia menemaninya bertahun-tahun. Sering kali, para pelanggannya sudah datang lebih dulu meski dagangannya belum benar-benar siap. Bahkan sebelum tengah hari, rujaknya kerap habis sehingga ia harus kembali mengulek untuk memenuhi pesanan.

“Kadang rujaknya belum matang, sudah ada orang beli. Kadang jam 11 siang sudah habis, bikin lagi. Orang jualan itu rezekinya, Allah yang ngatur. Jadi kita menerima apa adanya,” kata dia.

Baginya, berjualan rujak ulek melampaui urusan dapur yang harus tetap mengepul. Lewat cobek dan ulekan itulah, ongkos menuju Baitullah dikumpulkan perlahan. Nilainya memang tak besar, tetapi terus bertambah seiring waktu.

Ada kalanya ia hanya mampu menyimpan Rp30 ribu. Pada hari lain, jumlahnya bisa mencapai Rp50 ribu, bahkan lebih saat pelanggan ramai. Angka tersebut tampak kecil, namun bila dijaga dengan sabar, receh pun mampu membuka jalan. Maka, paling penting baginya adalah terus menyimpan.

Uang belanja yang tersisa, laba kecil, hingga hasil ramai pada hari tertentu, semuanya masuk ke tabungan.“Pasti nabung, seadanya. Pokoknya ada aja,”ujar dia sambil tersenyum.

Lain kesempatan, ia pernah mengikuti arisan mingguan sebesar Rp300 ribu agar simpanannya lebih terjaga. Cara itu membuatnya lebih disiplin. Hampir 16 tahun lamanya ia menyisihkan rezeki. Sedikit demi sedikit, tabungan terus bertambah sampai akhirnya cukup untuk pelunasan biaya haji pada 2025.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|