Presiden AS Donald Trump (tengah), bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan), saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK— Dalam sebuah artikel opini menarik yang diterbitkan oleh surat kabar The New York Times, dikutip Aljazeera Rabu (15/4/2026), penulis Frank Bruni menyajikan analisis kritis tajam terhadap sosok Menteri Perang AS Pete Hegseth.
Dia menganggapnya sebagai perwujudan berbahaya dari campur tangan agama dalam politik, yang tercermin dalam hubungannya antara operasi militer dengan kehendak Tuhan.
Penulis membuka artikelnya dengan kritik pedas terhadap Menteri Perang tersebut, dan menggambarkannya sebagai seorang fanatik yang secara alami tidak bisa bersembunyi.
Keyakinannya sangat ekstrem, ambisinya melampaui kemampuannya, dan kesombongannya sangat menonjol. Dengan demikian, selama beberapa pekan terakhir, Pete Hegseth telah sepenuhnya mengungkap jati dirinya.
Bruni—yang bekerja sebagai dosen mata kuliah jurnalisme dan kebijakan publik di Universitas Duke di North Carolina—menempatkan argumen ini dalam konteks yang lebih luas terkait perubahan mendalam di dalam pemerintahan AS selama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump, serta manifestasi nasionalisme Kristen dalam retorika politik dan militer.
Dia mengatakan beberapa pekan terakhir ini telah mengungkap wajah asli Hegseth yang memandang setiap aksi militer terhadap Iran atau negara lain sebagai korban demi Kristus.
Dia menambahkan Menteri Perang tersebut menegaskan bahwa "setiap rudal yang diluncurkan Amerika Serikat, setiap bom yang dijatuhkan, dan setiap warga Iran yang dibunuh, adalah demi Yesus.

2 hours ago
2

















































