Perang Dagang Trump Meluas, Negara Kaya Minyak Ini Jadi Musuh Utama

1 week ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump pada Senin (24/3/2025) mengeluarkan perintah eksekutif yang menyatakan bahwa setiap negara yang membeli minyak atau gas dari Venezuela akan membayar tarif 25% atas perdagangan dengan AS. Hal ini terjadi saat Trump terus memberikan tekanan keras pada Caracas.

Mengutip Reuters, kebijakan ini merupakan tekanan pada Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dituding tidak membuat kemajuan dalam reformasi elektoral. Ia juga menuding Maduro tidak serius dalam menangani pemulangan migran Venezuela dari AS.

"Venezuela telah mengirim puluhan ribu orang ke AS yang memiliki sifat yang sangat kejam," kata Trump.

Aturan ini merupakan kesinambungan dari permintaan Gedung Putih pada perusahaan migas, Chevron, untuk untuk segera keluar dari Venezuela. Aturan ini telah diteken secara rinci oleh Departemen Keuangan AS pada tanggal 4 Maret lalu yang memberikan waktu 30 hari bagi raksasa migas itu untuk menghentikan operasi.

Kedua langkah tersebut untuk sementara memfokuskan tekanan Trump pada pembeli minyak mentah Venezuela selain AS, seperti China. Walau begitu, belum dirinci secara detail dan menyeluruh bagaimana Washington akan memberlakukan tarif tersebut.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Venezuela mengatakan dengan tegas dan tegas menolak agresi baru yang diumumkan oleh Trump. Mereka menyebut sanksi ini sama saja dengan bukti kegagalan AS dalam menjatuhkan negara Amerika Latin itu.

"Tindakan sewenang-wenang, ilegal, dan putus asa ini, jauh dari melemahkan tekad kami, justru menegaskan kegagalan besar semua sanksi yang dijatuhkan terhadap negara kami," kata Pemerintah Venezuela dalam siaran pers.

Migas Rusia Jadi Pengganti?

Dalam perintah terbaru Trump, tarif 25% yang akan dikenakan kepada pembeli minyak Venezuela akan mulai berlaku pada tanggal 2 April dan akan digabungkan dengan tarif yang berlaku saat ini. Tarif tersebut akan berakhir satu tahun setelah negara tersebut terakhir kali mengimpor minyak Venezuela.

"Tarif tersebut juga akan berlaku bagi negara-negara yang membeli minyak Venezuela melalui pihak ketiga," kata perintah tersebut.

Harga minyak naik 1% setelah pengumuman tarif Trump, meskipun kenaikan tersebut dibatasi karena AS memperpanjang periode penghentian lisensi Chevron di negara itu.

Minyak merupakan ekspor utama Venezuela. China, yang sudah menjadi subjek tarif AS, merupakan pembeli terbesar.

Pada bulan Februari, China menerima secara langsung dan tidak langsung sekitar 503.000 barel minyak mentah dan bahan bakar Venezuela per hari, sekitar 55% dari total ekspor. India, Spanyol, Italia, dan Kuba juga merupakan konsumen minyak Venezuela lainnya selain Negeri Tirai Bambu.

Walau begitu, tarif yang diberlakukan oleh Beijing atas impor jenis minyak Venezuela tertentu dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan penurunan volume minyak mentah Venezuela yang diterima oleh pembeli China. Ini akhirnya memaksa perusahaan negara PDVSA untuk memperluas diskon harga ke pasar terpentingnya.

Presiden konsultan Goldwyn Global Strategies, David Goldwyn, menilai bahwa manuver ini dapat memiliki efek berupa peningkatan permintaan global terhadap minyak Rusia, yang sejatinya saat ini masih dalam tekanan Barat akibat serangan Moskow ke Ukraina.

"China dan India tidak mungkin mengambil risiko tarif tambahan untuk mengakses minyak berat Venezuela, ketika mereka dapat membeli minyak mentah Rusia," tandasnya.


(luc/luc)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Produksi Berkurang, Ini Jurus Badak NGL Amankan Pasokan Gas

Next Article Gawat! RI Berpotensi Masuk Radar Perang Dagang Trump

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|