Prabowo: 70 Persen Energi Asia Timur Lewat Laut Indonesia

2 hours ago 3

 70 Persen Energi Asia Timur Lewat Laut Indonesia Presiden Prabowo Subianto memberikan taklimat pada Rapat Kerja Pemerintah Anggota Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (ANTARA - HO/BPMI Sekretariat Presiden)

Harianjogja.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi strategis Indonesia dalam peta global, dengan menyebut sekitar 70 persen kebutuhan energi dan jalur perdagangan Asia Timur melintasi perairan nasional.

Pernyataan itu disampaikan dalam taklimat pada rapat kerja pemerintah Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Rabu, sebagai pengingat pentingnya kesadaran geopolitik di tengah dinamika konflik internasional.

Jalur Vital Dunia Ada di Indonesia

Prabowo menyoroti sejumlah jalur laut strategis yang berada di wilayah Indonesia, seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.

Menurutnya, jalur-jalur tersebut menjadi urat nadi distribusi energi dan perdagangan global, khususnya bagi negara-negara Asia Timur.

“Sadar kah kita bahwa 70 persen kebutuhan energi Asia Timur dan perdagangan melewati laut Indonesia,” ujarnya.

Belajar dari Konflik Timur Tengah

Ia menilai konflik di kawasan Timur Tengah yang sempat berdampak pada penutupan Selat Hormuz menjadi pelajaran penting.

Penutupan jalur tersebut memicu kepanikan pasar global serta lonjakan harga minyak dunia, menunjukkan betapa krusialnya jalur distribusi energi.

Indonesia Punya Posisi Tawar Tinggi

Dengan letak geografis tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar tinggi di mata dunia. Namun, Prabowo mengingatkan bahwa potensi itu harus diimbangi dengan tata kelola negara yang kuat dan tepat.

Ia juga menyinggung besarnya kekayaan sumber daya alam Indonesia yang bisa menjadi modal menuju kemakmuran jika dikelola optimal.

“Kita sering tidak sadar betapa besarnya dan kayanya bangsa ini,” katanya.

Waspadai Ancaman dan Adu Domba

Prabowo turut mengingatkan adanya potensi ancaman dari pihak asing yang ingin menguasai sumber daya Indonesia, termasuk melalui strategi adu domba.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat persatuan nasional serta mempercepat kemandirian di sektor strategis seperti pangan dan energi.

Satu Tahun Jadi Periode Kritis

Presiden menilai satu tahun ke depan sebagai periode krusial dalam memperkuat ketahanan nasional.

“Dalam 12 bulan ke depan ini sangat menentukan. Setelah itu, kita akan menjadi negara yang sangat kuat,” tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan urgensi konsolidasi nasional agar Indonesia mampu menghadapi tekanan dan dinamika global yang terus berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|