Foto ilustrasi Makan Bergizi Gratis berupa sayur, ayam goreng lengkap dengan buah dan susu, dibuat menggunakan Artificial Intelligence - AI.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mencatat capaian signifikan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga akhir Januari 2026, jumlah penerima manfaat program strategis nasional ini telah menembus angka lebih dari 110.000 orang dengan dukungan ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di wilayah kabupaten.
Seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat, Pemkab Gunungkidul terus memperkuat koordinasi lintas lembaga agar implementasi program MBG berjalan sesuai ketentuan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah intensifikasi komunikasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait kesiapan dan operasional SPPG di daerah.
Pelaksana Tugas Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Gunungkidul, Mohammad Arif Aldian, mengatakan koordinasi dengan BGN terus dilakukan, termasuk pertemuan terakhir yang berlangsung selama dua hari pada 26–27 Januari 2026.
“Koordinasi dengan BGN bersama perwakilan SPPG ini sesuai Surat Edaran dari Kementerian Dalam Negeri agar pemerintah kabupaten berpartisipasi aktif dalam koordinasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis,” kata Aldian, Rabu (28/1/2026).
Berdasarkan laporan Koordinator Wilayah BGN Gunungkidul, hingga saat ini sebanyak 110.194 anak sekolah telah menerima manfaat Program MBG. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa program makan bergizi gratis telah menjangkau mayoritas peserta didik di wilayah Gunungkidul.
Selain anak sekolah, MBG juga menyasar kelompok rentan lainnya. Program ini telah diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, serta balita dengan total penerima sebanyak 8.132 orang. Sementara itu, dari kalangan guru dan tenaga pendidik, tercatat 1.609 orang telah menerima manfaat program tersebut.
“Program Makan Bergizi Gratis saat ini sudah menjangkau seluruh 18 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul,” ujar Aldian.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul itu menambahkan, secara keseluruhan terdapat 105 SPPG yang telah terdata hingga sekarang. Namun demikian, tidak seluruhnya telah beroperasi penuh dalam memberikan layanan MBG kepada masyarakat.
“Dari total 105 SPPG, yang sudah beroperasi melayani Program MBG baru 55 SPPG. Sebanyak 13 SPPG sudah memiliki kepala pengelola, tetapi belum beroperasi, sedangkan 37 SPPG lainnya masih dalam tahap persiapan,” ungkapnya.
Menurut Aldian, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor krusial dalam pengoperasian SPPG. Hal ini perlu mendapat perhatian serius karena layanan MBG dilakukan hampir setiap hari dan menyangkut kebutuhan gizi penerima manfaat.
Ia menekankan agar pengelola SPPG tidak mengalami kelelahan fisik yang dapat berdampak pada kualitas pelayanan. “Kualitas layanan harus benar-benar dijaga agar tidak menimbulkan kejadian luar biasa yang dapat merugikan penerima manfaat,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Gunungkidul Sri Suhartanta menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis nasional yang wajib didukung penuh oleh seluruh jajaran pemerintah daerah. Ia mengakui dalam pelaksanaannya terdapat sejumlah kejadian menonjol yang harus dijadikan pembelajaran bersama.
“Hal-hal tersebut harus menjadi pengalaman berharga untuk melakukan perbaikan pelayanan ke depan. Standar operasional pelaksanaan MBG di masing-masing SPPG harus diterapkan secara ketat agar potensi risiko yang tidak diinginkan dapat dihindari,” ujar Sri Suhartanta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

















































