Psikolog UI Ingatkan Stres Kerja Picu Burnout

3 hours ago 1

Psikolog UI Ingatkan Stres Kerja Picu Burnout Ilustrasi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Stres kerja yang kerap dianggap wajar di tempat kerja berpotensi berkembang menjadi burnout jika terus diabaikan, demikian peringatan psikolog dari Universitas Indonesia, Ayu S. Sadewo, S.Psi., dalam forum kesehatan mental di Jakarta.

Dalam kegiatan Health Talk bertajuk Mind Matters: Menciptakan Ruang Aman untuk Sadar, Peduli, dan Saling Mendukung yang digelar Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA di Wisma Antara B, Jakarta, Rabu (28/1/2026), Ayu menyoroti kecenderungan pekerja yang tidak menyadari dirinya mengalami stres karena menganggapnya sebagai konsekuensi tuntutan kerja sehari-hari.

Menurut Ayu, banyak pekerja tetap menjalani rutinitas seperti biasa meski kondisi fisik dan mentalnya sudah tertekan. Stres baru diakui ketika gejalanya mulai mengganggu fungsi kerja maupun relasi sosial.

"Banyak orang tidak merasa dirinya stres. Mereka baru sadar ketika sudah mudah marah, defensif, menarik diri, atau merasa lelah terus-menerus," ujar Ayu.

Ia menjelaskan, dalam budaya kerja modern, stres sering dipandang sebagai sesuatu yang harus diterima. Ketahanan mental kerap disalahartikan sebagai kemampuan menahan tekanan tanpa keluhan, bukan kemampuan mengenali batas diri dan mengelola stres kerja secara sehat.

Pandangan tersebut, lanjutnya, membuat pekerja enggan mengakui kelelahan mental. Akibatnya, stres tidak ditangani sejak dini dan terus menumpuk dalam jangka panjang.

Ayu menambahkan, stres jangka pendek pada dasarnya masih tergolong normal. Kondisi tersebut bahkan dapat membantu seseorang tetap waspada dan produktif. Namun, stres kerja yang berlangsung terus-menerus tanpa jeda pemulihan berisiko berkembang menjadi burnout, yakni kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada turunnya motivasi serta kinerja.

Burnout, kata Ayu, tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya diawali oleh stres yang diabaikan, minim waktu istirahat, serta kurangnya ruang untuk mengekspresikan tekanan yang dirasakan di lingkungan kerja.

Dalam paparannya, ia juga mengingatkan bahwa tanda stres tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan verbal. Perubahan perilaku kecil, seperti menurunnya konsentrasi, meningkatnya kesalahan, atau keengganan berinteraksi, dapat menjadi sinyal awal yang sering luput dari perhatian.

Karena itu, Ayu mengajak para pekerja untuk mulai mengenali tanda-tanda stres kerja sejak dini, baik dari perubahan fisik, emosi, maupun pola pikir. Kesadaran tersebut dinilai penting agar stres dapat dikelola sebelum berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

Ia menegaskan menjaga kesehatan mental di tempat kerja bukan berarti menghindari tekanan, melainkan memahami kapan tekanan perlu direspons secara adaptif dan kapan tubuh serta pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti dan pulih. Pendekatan ini menjadi kunci menciptakan ruang kerja yang lebih aman dan suportif bagi setiap individu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|