
Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC. Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Global
REPUBLIKA.CO.ID, Bagi sebagian masyarakat Indonesia, mungkin masih asing dipendengaran dengan Negara-negara yang berada dalam naungan Union du Maghreb Arabe (UMA), atau Uni Maghreb Arab. Masyarakat Indonesia khususnya penikmat bola, lebih familiar dengan nama-nama mega bintang sepak bola saat ini, seperti Achraf Hakimi, Lamine Yamal dari tim sepak bola Spanyol, Karim Benzema, bintang bola Prancis yang memperkuat klub Al-Hilal (Saudi) atau bintang legendaris Prancis, Zidane atau Rayan Ellaoumi (Kanada), padahal nama-nama bintang bola tersebut merupakan keturunan dari negara-negara UMA (Maroko, Al-Jazair dan Tunisia).
Dalam dunia politik Masyarakat Indonesia, khususnya Generasi Baby Boomers dan Generasi X sangat mengenal almarhum Muammar Gaddafi (Pemimpin Libya), sang anti Barat yang sangat fenomenal tersebut, dan tokoh-tokoh lainnya seperti Sosiolog Muslim terkemuka Ibnu Khaldun, asal Tunisia dan lain lain. Sementara para Ulama Nusantara lebih akrab pendengaran mereka dengan kitab-kitab klasik seperti, Dalail Khairat atau Tarekat Tidjani dan seterusnya.
Uni Mghreb Arab (UMA), yang beranggotakan lima negara Arab di Kawasan Afrika Utara, yaitu: Maroko, Aljazair, Libya, Tunisia dan Mauritania, adalah organisasi politik dan ekonomi yang didirikan pada 17 Februari 1989 di Marrakech, Maroko yang tujuannya adalah untuk mengintegrasikan lima negara tersebut, meskipun kemajuannya terhambat oleh perselisihan politik regional.
Berkantor pusat di Ibu Kota Rabat, Maroko, tujuan utama pendirian UMA adalah untuk memfasilitasi pergerakan bebas orang, jasa, barang, dan modal antar negara anggota dan untuk mendorong hubungan komersial dan budaya yang lebih erat. Namun, kegiatan organisasi ini sebagian besar tetap tidak aktif.
Perselisihan diplomatik yang mendalam—terutama antara Aljazair dan Maroko mengenai masalah Sahara Barat—telah mencegah kemajuan nyata bagi UMA, dengan dewan kepresidenan tingkat tinggi tidak menyelenggarakan KTT atau Pertemuan Tingkat Tinggi, sejak pertengahan tahun 1990-an. Terlepas dari tantangan ini, perjanjian perdagangan berfungsi sebagai kerangka kerja dasar yang dimaksudkan untuk menyatukan wilayah dengan populasi gabungan lebih dari 100 juta orang tersebut.
Lantas bagaimana arah hubungan antara Indonesia dengan Negara-negara UMA tersebut? Apa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam Upaya peningkatan hubungan dengan Negara-negara di Kawasan termasuk hal-hal apa saja yang menjadi prioritas Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan hubungannya dengan Negara-negara UMA?
Sebelum 1955, hubungan antara Indonesia dan negara-negara Maghreb Arab, terutama (Aljazair, Maroko, dan Tunisia) ditandai solidaritas anti-kolonial, persaudaraan Islam, dan advokasi diplomatik akar rumput. Indonesia yang baru merdeka mendukung gerakan kemerdekaan negara-negara di Afrika Utara melawan pemerintahan kolonial Prancis dan Spanyol.
Tonggak penting dalam hubungan pra-1955 ini meliputi pembentukan Komite Afrika Utara tahun 1951. Perdana Menteri Indonesia saaat itu, Mohammad Natsir, mendirikan Komite Aksi Pembela Kemerdekaan Rakyat Afrika Utara.
Komite ini secara aktif mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Sejak 1951, Indonesia menggunakan keanggotaannya yang baru diperoleh di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk secara konsisten mengadvokasi kemerdekaan Tunisia dari pemerintahan kolonial Prancis.
Menjelang Konferensi Bandung yang bersejarah pada 1955, Indonesia mengundang dan menjadi tuan rumah delegasi dari Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Meskipun negara-negara ini belum sepenuhnya merdeka, Indonesia menyediakan platform internasional yang vital bagi mereka untuk menyuarakan kedaulatan mereka.
Selanjutnya, hubungan bilateral antara Indonesia dan Negara-negara Maghreb Arab bergeser dari ikatan historis berbasis solidaritas ke era integrasi ekonomi yang agresif, yang ditandai dengan perjanjian perdagangan, sertifikasi halal, dan kemitraan rantai pasokan strategis. Arah strategis dan ekonomi utama mendefinisikan hubungan Indonesia – UMA saat ini.
Hubungan bilateral berfokus pada perluasan perdagangan dua arah, peningkatan investasi di bidang energi dan pertanian, serta promosi diplomasi budaya dan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Islam bersama dan solidaritas anti-kolonial. Di bidang ekonomi dan perdagangan, masalah ekonomi merupakan pilar utama hubungan Indonesia dengan Negara-negara Afrika Utara, yang ditopang oleh penguatan kerjasa di bidang rantai pasokan strategis dan investasi infrastruktur.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

10 hours ago
9















































