REPUBLIKA.CO.ID, TAPANULI TENGAH, – Ratusan penyintas bencana hidrometeorologi masih mengungsi di ruang-ruang kelas SMA Negeri 1 Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pasca banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025. Sebanyak 162 kepala keluarga dengan total 672 jiwa menetap di sekolah tersebut.
Kepala Kepling 3 Tukka, Mardiana Tambunan, menyatakan bahwa dari 672 pengungsi, terdapat 280 laki-laki dan 392 perempuan. Di antara mereka, terdapat 130 anak, 63 balita, 25 bayi, serta 66 lansia. Selain itu, ada empat penyandang disabilitas, lima ibu hamil, dan 25 ibu menyusui yang kini menempati 27 ruang kelas di sekolah itu.
Pengungsi ini berasal dari Desa Tukka dan Desa Hutanabolon. Sebelumnya, jumlah pengungsi lebih banyak, namun sebagian telah kembali ke rumah mereka yang masih layak dihuni setelah air surut. Namun, bagi mereka yang rumahnya hancur, masih menunggu bantuan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap).
Saat ini, bantuan makanan diberikan kepada pengungsi melalui dapur umum. Mayoritas penyintas adalah petani dan pekerja kebun karet yang kehilangan mata pencaharian akibat kebun dan sawah mereka terendam lumpur, kayu, dan pasir.
Situasi Pendidikan Terdampak
Kepala SMA Negeri 1 Tukka, Faisal Napitupulu, menyampaikan bahwa para siswa terpaksa belajar di tenda darurat dan melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena sekolah digunakan sebagai tempat pengungsian. Sekolah yang memiliki 27 rombongan belajar ini menyesuaikan proses belajar dengan kondisi yang ada.
Sejak 5 Januari 2025, sebagian siswa telah mengikuti pembelajaran luring. Dengan penambahan jumlah tenda, kini empat kelas belajar di tenda dari pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, meskipun siswa mengeluhkan kondisi panas di dalam tenda.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

12 hours ago
3















































