Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, Ketum PBNU Gus Kikin Soroti Integritas

3 hours ago 4

Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, Ketum PBNU Gus Kikin Soroti Integritas

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 KH Abdul Hakim Mahfud, atau akrab disapa Gus Kikin. /Youtube-Setkab.

Harianjogja.com, SURABAYA—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyoroti pentingnya integritas dalam pelaksanaan setiap kegiatan setelah ratusan santri-santriwati di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gus Kikin mengatakan setiap pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan harus memiliki rasa tanggung jawab, termasuk terhadap aturan dan regulasi yang berlaku. Pernyataan tersebut disampaikan ketika dia dimintai tanggapan mengenai dugaan keracunan massal yang terjadi di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

"Ya, itu integritas lah. Kalau semuanya bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatannya, ya mudah-mudahan [kasus dugaan keracunan MBG] enggak terjadi," ungkap Gus Kikin, dikutip Kamis (10/9/2026).

Menurut Gus Kikin, integritas tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menyangkut kepatuhan terhadap ketentuan yang telah diberlakukan. Setiap insan yang menjalankan kegiatan dinilai perlu bertanggung jawab atas tugas dan aturan yang melekat di dalamnya.

"Integritas itulah. Kita masing-masing itu harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatannya, tanggung jawab terhadap aturan-aturan yang diberlakukan di dalam kegiatan masing-masing," imbuhnya.

Gus Kikin Tak Banyak Bicara Soal Teknis

Saat ditanya mengenai rekomendasi atau saran PBNU atas insiden tersebut, Gus Kikin memilih tidak memberikan penjelasan secara teknis.

Dia mengatakan dugaan keracunan dapat memiliki beragam kemungkinan penyebab. Karena itu, menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat dan diinvestigasi oleh para pemangku kepentingan terkait.

"Wah, itu teknis itu. Kalau teknis ya jangan. Ini saya enggak bisa bicara karena teknis itu macam-macam sebabnya. Jadi nanti dilihat aja ya," ucap dia.

Gus Kikin menyebut kejadian yang menimpa para santri-santriwati di Tanggulangin tersebut merupakan satu dari sekian banyak peristiwa yang telah terjadi.

Meski demikian, dia mendorong adanya evaluasi secara menyeluruh terhadap tata kelola program MBG. Pada saat yang sama, praktik-praktik baik yang selama ini telah diterapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lainnya, terutama dalam penyajian MBG kepada penerima manfaat di lingkungan pondok pesantren, menurutnya perlu dipertahankan.

"Itu kan satu dari sekian banyak ya [ratusan santri di Sidoarjo diduga keracunan MBG]. Kita harus jalan terus karena emang pesantren harus jalan," kata dia.

Wamenag Sebut Program MBG Tetap Dibutuhkan

Sebelumnya, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi'i menyatakan dugaan keracunan massal di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, tidak secara otomatis menghentikan program Makan Bergizi Gratis di lingkungan pondok pesantren.

Syafi'i menyampaikan hal tersebut setelah menemui sejumlah santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T Notopuro, Sidoarjo. Berdasarkan penuturan para santri yang ditemuinya, dia menyebut penerima manfaat secara umum masih sangat membutuhkan dan menunggu keberlanjutan program MBG.

Menurut Syafi'i, penyaluran MBG oleh SPPG Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah kepada pondok pesantren telah berjalan lancar tanpa kendala selama satu tahun terakhir sebelum insiden dugaan keracunan massal tersebut terjadi.

"Selama ini, tadi beberapa yang kita tanya semuanya mereka menunggu. Mereka menunggu dan mereka sangat membutuhkan MBG itu, dan kan terbukti sudah berjalan hampir setahun enggak ada masalah. Makanya keinginan untuk mendapatkan MBG itu cukup tinggi. Cuman baru kali ini mereka mengalami itu (gejala keracunan makanan diduga usai menyantap MBG)," ucap Syafi'i, Jumat (4/9/2026).

Politikus Partai Gerinda itu mengatakan insiden tersebut tidak secara otomatis menghentikan program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Dia menilai evaluasi dan investigasi perlu dilakukan pihak-pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN), untuk mengetahui penyebab pasti kejadian.

"Tentu akan dievaluasi penyebabnya apa gitu karena dari dapur yang sama, untuk anak yang sama, setelah berjalan sekian bulan kejadiannya hari ini. Itu 'kan harus ada investigasi. Bukan investigasi masuk ke wilayah perlu tidaknya MBG, tapi ini ada apa gitu. Itu yang perlu kita selesaikan. Artinya, [penerima manfaat] MBG-nya semuanya mengatakan mereka sangat senang, dan menunggu datangnya makanan dari MBG (SPPG)," kata dia.

Telur dan Sayuran Disinyalir Berkaitan

Dari kesaksian para santri yang masih menjalani rawat inap, Syafi'i menyebut telur dan sayuran sebagai dua menu MBG yang dominan disinyalir berkaitan dengan insiden dugaan keracunan massal tersebut.

Namun, penyebab pasti kejadian masih perlu ditelusuri. Syafi'i menduga terdapat kemungkinan persoalan pada rentang waktu antara makanan selesai dimasak dan proses distribusi, maupun jadwal konsumsi yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam petunjuk teknis (juknis).

Selain itu, dia juga menduga adanya kealpaan petugas dapur MBG dalam melakukan pelabelan pada ompreng. Label tersebut berkaitan dengan waktu makanan harus dikonsumsi.

"Tadi kita tanya penyebabnya itu yang dominan di dua menu ya, telur dan sayuran. Di dua menu itu yang dominan, telur dan sayuran. Ini pasti apakah proses masaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada di juknis ya, seperti itu, tapi mungkin tidak sesuai. Semua itu dikasih label harus dimakan jam berapa, kita enggak tahu," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|